BuntetPesantren.org | Situs resmi Pondok Buntet Pesantren - Cirebon

Sunday
Sep 05th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Ritus Peralihan di Buntet Pesantren

Surel Cetak PDF
selametan

Bagi manusia, setiap aktifitas dalam lingkaran hidupnya selain memberikan peluang-peluang juga menghadirkan ancaman-ancaman bagi keberlang-sungan hidupnya. Untuk menghindar dari ancaman ini, orang kemudian menciptakan berbagai ritual keselamatan. Ritual ini, menurut Koentjaraningrat sifatnya universal karena ditemui di hampir setiap kelompok yang ada di dunia ini. Terlebih bagi orang Jawa yang menurut Niels Mulders disebut sebagai masyarakat seremonial.


Sifat masyarakat Jawa yang seremonial ini seolah diteguhkan oleh penelitian Geertz tentang Jawa. Geertz dalam hasil penelitiannya yang dibukukan sebagai Santri, Abangan, dan Priyayi memaparkan banyak aktifitas seremonial yang disebut dengan selamatan. Selain selamatan, ciri dari masyarakat seremonial yang lain adalah semuanya ribet dengan acara, dalam bukunya yang lain Geertz menjelaskan tentang sifat kerajaan di Bali yang (pengaruh Jawa sangat kuat di daerah ini) lebih banyak aktifitas seremonialnya, dalam bahasa Geertz di sebut dengan Negara Teater. 


Wong Buntet Pesantren (meminjam istilah dari Kang (sekarang sih Mang, Ghozi), di samping sebagai sub kultur ala pesantren juga menerima masukan-masukan budaya atau tradisi dari Jawa atau daerah sekitarnya, khususnya tradisi Cirebon. Hanya saja, karena pesantren juga pengusung dakwah Islam, maka berbagai tradisi yang diterimanya kemudian dielaborasi atau dipoles dengan nuansa Islam, sehingga terlihat indah dan sejuk terasa.


Salah satu tradisi yang ada di Buntet, entah datang dari mana, adalah dalam bahasa antropologi disebut dengan ritus peralihan atau rites the passage. Wong Buntet banyak mengenal dan tetap mempraktekkan ritus peralihan dalam siklus hidupnya, walaupun ada juga yang telah hilang. Berbeda dengan di tempat lain, berbagai ritus peralihan yang ada di Buntet umumnya berisi doa’doa sebagai bentuk harapan agar orang yang sedang menjalani masa peralihan diselamatkan.


Ritus peralihan ini dipraktekkan sebelum manusia lahir ke muka bumi sampai manusia tersebut meninggal. Bagi wong Buntet, masa peralihan tetap dianggap penting, untuk itu agar orang yang sedang menjalani masa peralihan dibekali dengan doa sebagai harapan agar orang tersebut selamat.


Berbagai ritus peralihan yang dikenal dan dipraktekkan oleh wong Buntet, dimulai dari masa kelahiran sampai meninggal, adalah:


A. Kelahiran

Pada fase ini, wong Buntet memiliki banyak tradisi yang berkaitan dengan penyambutan kedatangan anggota keluarga yang baru, diantaranya adalah; 


  1. Ngupati yaitu yaitu pada masa ketika usia kandungan empat bulan. Si calon ibu atau keluarganya akan membuat kupat atau ketupat yang dishodakohkan ke tetangga. Ini juga sebagai bentuk “pengumuman” bahwa seseorang sedang mengandung empat bulan. Biasanya ada orang yang ditunjuk khusus untuk mengantarkan kupat atau ketupat ke para tetangga, Kyai atau Nyai. 


    Orang yang mengantarkan kupat tersebut akan mengatakan supaya si calon ibu dan juga bayi yang dikandungnya selamat (pandongane), dan biasanya orang yang dikirimi ketupat akan serta merta mendo’akan. Menurut kanjeng Nabi, usia kandungan empat bulan adalah masa ketika roh ditiupkan dan takdir ditetapkan. Tampaknya ngupati dilakukan oleh wong Buntet berdasarkan hadits Nabi tersebut, dengan ngupati banyak doa yang ditunjukkan bagi calon ibu atau bayi tersebut yang dilakukan oleh para Kyai, Nyai, atau tetangganya.


  2. Ngrujaki yaitu ketika masa kandungan 7 bulan. Ini agak umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Hanya saja, wong Buntet memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan ngrujaki. Biasanya ketika ngrujaki keluarga yang mengandung akan membuat rujak yang terbuat dari aneka buah. Buah-buah tersebut dibebek atau ditumbuk jadi satu dicampur dengan cabai, tradis , dan bahan-bahan lainnya. Aneka buah yang biasanya digunakan sebagai bahan rujak adalah jambu, kedondong, mangga, dll (semuanya yang masih muda). Pertimbangannya kenapa masih muda adalah mungkin untuk cita rasa rujak atau juga ada harapan-harapan tertentu. Rujak biasanya dibikin satu hari sebelum hari riatual dilaksanakan. 


    Pada hari ritual yang telah ditetapkan, biasanya pagi hari, para Nyai akan berkumpul untuk kemudian membaca marhabanan, yaitu membaca riwayat hidup Nabi dari kitab al-Barzanji. Pada acara marhabanan ini juga biasanya diisi dengan do’a-do’a yang lain. Setelah marhabanan, calon ibu akan dimandikan dari air yang diambil dari 7 sumur atau sumber yang dianggap memiliki barokah. Dalam memandikan atau tepatnya mengguyur calon ibu, para Nyai yang dimintai tulung akan mengguyur dengan disertai bacaan-bacaan tertentu sebagai do’a.


    Setelah proses ini selesai, maka masyarakat kemudian akan secara beramai-ramai mbanjur atau mengguyur para kerabat calon ibu. Dimulai dari suami, bapak ibu kedua pasangan, kakak-adik, para ponakan, dan kahirnya meluas pada masyarakat yang hadir di situ. Ini sebagai luapan ungkapan turut bergembira yang ditunjukkan oleh masyarakat pada kehadiran calon bayi.


  1. Ngolosi atau Nglengai yaitu memmbuat bubur lolos, biasanya dilakukan ketika usia kandungan sembilan bulan. Pada usia kandungan itu, calon ibu akan membuat bubur lolos yang dikirimkan pada para Kyai, Nyai, kerabat, dan tetangga. Biasanya ketika mengirimkan bubur lolos akan disertai juga dengan minyak goreng (sebagai simbol akan harapan supaya proses kelahiran menjadi mudah). Seperti ketika ngupati, orang yang ditugaskan untuk mengirim akan memberitahukan bahwa si A usia kandungannya sudah sembilan bulan, pandongane supaya ibunya selamat, anaknya selamat, diberikan kesehatan jasmani dan rohani, utuh anggota tubuhnya. Orang yang menerima bubur lolos dan mnyak goreng akan serta merta mendoakannya.


  2. Kelahiran bayi. Setelah bayi lahir, maka Bapaknya atau kerabat yang ada di sekitar tempat kelahiran akan serta merta melafadzkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telingan kiri. Hal ini dilakukan supaya kata pertama yang didengar oleh bayi di dunia ini adalah lafadz-lafadz yang baik. Dalam proses kelahiran, selain dilakukan oleh bidan, wong Buntet juga selalu biasa memanggil dukun bayi untuk membantu dan menemani si calon ibu.


  3. Penguburan Ari-ari. Ari-ari yang dalam konsep Jawa sering dikatakan sebagai kembaran (saudara kembar/jatidiri) diberlakukan secara baik oleh wong Buntet.Tampaknya wong Buntet juga mengenal konsep itu. Dalam memberlakukan ari-ari, wong Buntet, akan memasukkan ari-ari dari si bayi tersebut ke dalam pendil atau buyung disertai lilin dan kemudian dikuburkan di belakang masjid atau langgar/mushalla. Kalau benar bahwa wong buntet mengenal bahwa ari-ari sebagai kembaran, maka ritual ini sebagai simbol pencarian jatidiri, bahwa ketika bayi besar kelak agar ia mencari jatidirinya di masjid atau langgar. Untuk lebih mengetahui bagaimana konsep Jawa tentang pencarian jatidiri silahkan baca lakon Bima mencari Dewa Ruci.


  4. MangkuRitual ini dilakukan di malam ketika tali pusar bayi sudah putus ketika. Mangku dilakukan di malam hari. Selama semalam (dari Maghrib sampai dengan Shubuh), bayi selalu berada dalam pangkuan. Dalam mangku, tanpa diundang biasanya para Nyai dan ibu-ibu tetangga akan datang untuk membantu memangku bayi. Ketika mangku, sambil memangku ataupun ibu-ibu yang hadir akan membaca surah Al-Ikhlas atau Salawat kepada Kanjeng Nabi. Si bayi akan tetap berada di pangkuan para ibu secara bergantian hingga fajar menyingsing (subuh). Selama dipangku, si bayi tetap dibolehkan tidur dan si pemangku (para ibu-ibu) biasanya tidak lepas dari tasbeh dan mulutnya komat-kamit. 


  5. Puputan yaitu ritual yang dilakukan oleh wong Buntet untuk mendoakan keselamatan bayi. Biasanya dalam puputan dibacakan kitab barzanji. Puputan dilaksanakan di malam hari. Ketika sedang membaca barzanji, bayi dengan diemban oleh bapak atau saudara orang tuanya, akan keliling ke satu persatu yang hadir untuk didoakan. Biasanya dimulai dari Kyai yang dianngap sepuh lalu secara teratur keliling ke arah sebelah kanan Kyai tersebut sampai pada jamaah yang hadir.


  6. Mudun Lemah ritual yang dilakukan ketika bayi pertama kali boleh menginjak tanah. Biasanya ketika mudun lemah ada bacaan berzanji, salawat, dan lain-lain.


B. Kehidupan atau Pertumbuhan

 


Selametan

Setelah mengalami proses kelahiran, dalam proses kehidupan wong Buntet selalu disertai dengan ritus-ritus peralihan yang disertai doa’. Saat sunatan, selain dipotongkan ayam jantan, juga di siang hari atau malam harinya diadakan tahlilan untuk mendoakan para orang tua dan juga anak yang akan di sunat.


Setelah masa sunat hampir dapat dipastikan tidak ada ritus peralihan yang lain, keculai skarang sudah mulai usum atau banyak dilakukan adalah perayaan ulang tahun, tentunya ala Wong Buntet yaitu dengan marhabanan.


Walau tidak ada ritus-ritus peralihan pada masa ini, tetapi biasanya para orang tua di Buntet Pesantren melakukan tirakat untuk anak-anaknya, baik ketika anak-anaknya mau menjalani hari petama sekolah, kuliah atau mondok, dihari weton-nya (hari kelahirannya), maupun ketika tidak ada kejadian-kejadian yang spesial. Biasanya orang tua di Buntet Pesantren akan membaca al-Qur’an sampai khatam untuk mendoakan anak-anaknya. Satu anak satu khataman al-qur’an. Membaca al-Qur’an adalah satu aktifitas yang biasa dilakukan oleh Wong Buntet Pesantren selain dari aktifitas ibadah lainnya, seperti wiridan, sholat sunnah, maupun puasa.


Terdapat ritus peralihan baru akan kembali ada ketika melepas masa lajang atau pernikahan. Selain terdapat beberapa adat dalam pernikahan yang semuanya bagian dari ritus perilihan dalam merubah status sesorang tari, njaluk, nlamar, ekad nikah,dll). Dalam ritus ini, yang menonjol adalah walimatus arusy (atau syukuran pernikahan). Di ritus (selamatan) ini, yang utama adalah ungkapan rasa syukur dan pemberian informasi ke masyarakat atas pernikahan seseorang. Sama seperti tradisi lainnya di Buntet Pesantren, walimatul arusy juga diisi dengan tahlil dan doa-doa.


C. Kematian
ziarah

Diyakini oleh wong Buntet bahwa pada saat seseorang meninggal merupakan masa peralihan dari kehidupan dunia menuju alam barzah. Di kehidupan ini, roh atau jiwa orang meninggal akan mendiami tempat baru. Enak tidaknya kehidupan di alam barzah ini tergantung pada kebaikan-kebaikan (ibadah) yang telah dilakukannya dan doa dari anak cucunya.


Seseorang yang telah menempati alam barzah ini, diaykini masih bisa berkomunikasi dengan yang masih hidup di dunia. Komunikasi itu bisa melalui istikhdor (menghadirkan) atau juga melalui mimpi. Komunikasi melalui mimpi lebih sering terjadi. Bahkan bagi orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan, komunikasi dengan orang tua atau leluhur yang ada di alam barzah masih bisa dilakukan layaknya komunikasi dua orang yang masih hidup di dunia.


Bagi Wong Buntet Pesantren, masa peralihan ini dianggap penting. Pada masa peralihan ini, selain diambil dari ajaran-ajaran agama Islam, Wong Buntet juga memiliki tradisi tersendiri, diantaranya;


  1. Tahlil tiap malam sampai malam ke tujuh atau kedelapan, tahlilan kemudian dilanjutkan pada malam ke 40 (matang puluh), keseratus (nyatus), dan mendak atau haul yang diadakan setiap tahun.


  2. Ziarah kubur. Ziarah kubur dilakukan selama tujuh hari dari meninggalnya seseorang, biasanya dilakukan pada pagi hari dan setelah itu ada ungkapan rasa terimakasih dengan sedekah sarapan bagi orang yang telah ziarah. Dalam ziarah ini biasanya surah yasin, tahlil, dan doa bagi yang meninggal supaya mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah.


 


Ujung masa, 15 Desember 2008

Padepokan “Rumah Teduh”



Mohammad Fathi Royyani

Orang yang suka ndopok


Terakhir Diperbaharui ( Senin, 15 Desember 2008 23:11 )  

Add comment


Security code
Refresh

Kabar Detik.com

الجزيرة - الخبر

Facebook MySpace Twitter Digg Delicious Stumbleupon Google Bookmarks RSS Feed 

Attention please..

Mohon maaf situs ini diganti penampilan untuk memudahkan akses lewat HP sehingga dikurangi gambar dan animasinya. Selain itu, tidak menerima user setelah user terdaftar ribuan menyebabkan server down. Untuk mengatasinya, server buntet telah dipindahkan ke server di USA dan semoga tidak ada lagi masalah.

 

Related Items

Statistics

Anggota : 3
Konten : 1248
Tautan Web : 6
Kunjungan : 2098736

Who's Online

Kami punya 89 tamu online

Update Artikel dari Kami