"BUMI PERJUANGAN, YANG TERUS BERSINAR TERANG"
Oleh: Zulfa Rafik Iskandar
Saya baru saja pulang kampung, di desa
kelahiran saya. Sebuah desa kecil dilereng Gunung Perahu bernama Desa Getas Kecamatan Bawang Kabupaten Batang, sebuah
Kabupaten yang dulunya masuk daerah administratif Pekalongan Jawa Tengah.
Kebetulan ada acara keluarga sehingga harus pulang kampung. Hanya satu hari
saya dirumah dan selanjutnya berangkat kembali ke Jakarta tempat perantauan
saya sekarang. Tidak lupa saya mampir sowan ke kediaman Habib Luthfy Bin Yahya
yang merupakan sesepuh kami masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.
Saya baru saja pulang kampung, di desa
kelahiran saya. Sebuah desa kecil dilereng Gunung Perahu bernama Desa Getas Kecamatan Bawang Kabupaten Batang, sebuah
Kabupaten yang dulunya masuk daerah administratif Pekalongan Jawa Tengah.
Kebetulan ada acara keluarga sehingga harus pulang kampung. Hanya satu hari
saya dirumah dan selanjutnya berangkat kembali ke Jakarta tempat perantauan
saya sekarang. Tidak lupa saya mampir sowan ke kediaman Habib Luthfy Bin Yahya
yang merupakan sesepuh kami masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.
Walaupun usianya belum teramat sepuh, tapi
karena kapasitas keilmuwan beiau maka banyak ulama yang lebih sepuh (baca -tua)
juga berkonsultasi ke beliau. Sesampai di kediaman Habib, ternyata beliau
sedang melatih ketropak Islami dengan tema "Sunan Kalijaga". Yang dilatih
adalah bapak-bapak dari Dewan Kesenian Pekalongan di dampingi Sekretaris Daerah
Kabupaten Pekalongan.
Ketropak Islami tersebut nantinya akan di pentaskan dalam rangka memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Secangkir teh dituangkan dan Abah Habib, -begitu kami memanggil beliau- mulai memberikan konsultasi dan nasihat kepada setiap tamu yang hadir. Lebih kurang 2 jam saya sowan di kediaman Abah Habib dan mendapatkan amanat sebuah "ijazah" tentang tata kerama melakukan istikharah dengan Al-Qur'an, saya pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Saya sampaikan ke beliau bahwa saya akan mampir ke Buntet Pesantren, beliaupun menitipkan salam untuk segenap ahli (keluarga besar) Buntet.
Mobil saya melaju kencang, rupanya sopir saya ingin segera sampai Buntet dan segera bisa istirahat. Pukul 22.00 malam saya sampai di Buntet Pesantren. Saya langsung menuju Asrama C Al-Firdaus salah satu pondok di Buntet dimana KH.Hasanuddin Busyrol Karim mengasuh para santrinya. Dulu disinilah saya mulai mengenal al-Qur'an dan ilmu agama lainnya.
Setelah bersalaman dan bincang-bincang sebentar dengan sang Kyai, saya pamit untuk ke kamar santri tempat saya dulu menikmati tikar sebagai alas tidur dan lipatan sajadah sebagai bantalnya. Tapi Kyai melarang, katanya ada kamar kosong di lantai dua rumahnya. Tadinya kamar tersebut milik putrinya Dede Siti Fatimatuz Zahra yang sekarang sedang nyantri di PP Ploso Kediri Jawa Timur. Beginilah memang cara keluarga Buntet menghormati tamu maupun alumninya. Dengan pintu yang selalu terbuka selam 24 jam dan sambutan hangat bersahabat. KH. Hasanuddin Busyrol Karim merupakan putra ketiga dari KH. Busyrol Karim bin KH.Hamim. Kakak kandung beliau adalah KH. Fakhruddin Mulyono dan KH. Majduddin.
Bagi kami masyarakat Bawang Kabupaten Batang tentu sudah sangat familier dengan Pondok Buntet Pesantren. Dulu yang pertama kali melakukan syi'ar keislaman di Bawang dan membuat sebuah rekronstruksi sosial menjadikan masyarakat yang agamis, masyarakat santri adalah ulama Buntet. Sekitar dekade 50-an, melalui undangan santri pertama Buntet asal daerah kami KH. Maqsudi, para ulama Buntet melakukan dakwah Islamiyah di kampung kami. Mulai dari KH.Mustahdi Abbas, KH. Mustamid Abbas, KH.Hasyim, KH.Munawwar, KH. Muafi hingga KH.Busyrol Karim semuanya pernah menetap dan berdakwah di kampung kami. Di rumah kakek saya sendiri, keluarga KH.Busyrol Karim menetap dan berdakwah selama lebih kurang 5 tahunan. Dulu di desa saya belum ada Madrasah Dinniyah, maka KH.Fakhruddin Mulyono putra tertua KH.Busyrol Karim tersebutlah yang mendirikannya dengan nama Madrasah Dinniyah Bustanul Khairat.
Para ulama Buntet juga secara bergiliran memberikan pengajian untuk masyarakat sekecamatan Bawang. Santri-santri Buntet juga "di impor" untuk sekedar mengajar membaca al-Qur'an di masjid-masjid dan melantunkan tadarrus al-Qur'an ketika bulan Ramadlan tiba. Terjalinlah ikatan batin yang hangat dan sikap saling menghormati begitu harmonis antara ulama Buntet Pesantren dengan masyarakat setempat. Dari sini, kecintaan dan kemauan masyarakat untuk belajar agama di pesantren tumbuh dan mulailah masyarakat mengirimkan putra-putrinya ke pondok-pondok pesantren dipulau Jawa. Kini di Kecamatan Bawang sudah berdiri puluhan pesantren dan dihuni ratusan mungkin ribuan santri dari berbagai daerah. Sebuah perjuangan dakwah dalam rangka transformasi sosial yang sukses. Gambaran diatas membuktikan bahwa pesantren mampu melahirkan Social Engineer yang handal.
Malam itu saya begadang di rumah Kang Imat, panggilan akrab KH. Aris Ni'matullah, MAF. Rumahnya di ujung barat kampung Buntet, tepatnya di daerah ledeng, sentra irigasi pertanian di Buntet namun kini airnya sudah mengering. Kang Imat adalah seorang Kyai muda berbakat dan mempunyai jiwa kepemimpinan tinggi. Sejak kuliah di Cairo University Mesir beliau sudah kondang sebagai ketua paguyuban santri Jawa Barat di Mesir disamping juga sebagai aktivis KMNU pada masanya. Beliau menempati sebuah rumah baru dengan arsitektur Jawa kuno yang di sebut "rumah gebyok". Sedang asyik menikmati teh dan ngobrol ngalor-ngidul, tiba tiba seorang santri beliau bernama Khotib menawarkan saya makan dengan menu yang sangat istimewa, " Mas Zulfa, kersa dahar manuk puyuh mboten? (Mas Zulfa mau makan daging burung puyuh tidak?). Saya tidak langsung menjawab tapi justeru tambah heran. Jam 02.00 dini hari saya ditawari makan, walaupun pola makan seperti ini menjadi sesuatu yang biasa kalo saya masih nyantri di Buntet. Tapi setelah beberapa tahun di Jakarta mungkin jadwal makan saya mulai sedikit teratur. Yang lebih membuat saya terkejut lagi adalah menu yang di tawarkan yakni daging burung puyuh. Darimana dapatnya?!!.
Setelah saya lihat di dapur saya lebih tercengang lagi. Dua orang santri dan satu orang asli Buntet bernama mas Baki sedang membersihkan bulu-bulu burung puyuh dalam jumlah yang sangat banyak. Saya tanya "berapa jumlahnya mas Khotib?". "Enam puluh dua ekor Mas" jawabnya. "Hah!", angka yang fantastis untuk sebuah "perburuan malam". Kata Kang Imat tadi mas Baki dan Mas Khotib yang mencari burung puyuh sampai ke sawah-sawah di sekitar Gemulung, sebuah desa di sebelah selatan Buntet. Itulah hobi mas Khotib selain memelihara kambing sang Kyai dan menanam pohon singkong. Dia adalah seorang santri dari Cilacap Jawa Tengah yang sangat hormat terhadap sang guru. Keluarganya turun temurun merupakan santri di Buntet Pesantren. Dia sekarang hampir tiga tahun nyantri di Buntet dan belum pernah pulang ke kampung halamannya. Bagi santri Buntet ada sebuah keyakinan. Barang siapa yang mondok di Buntet selama tiga tahun dan tidak pernah pulang ke kampung halaman maka insyaAllah akan "futuh" (terbukanya pintu hati dalam menerima ilmu). Selanjutnya sang santri akan mendapatkan berkah ilmu yang manfaat.
Bagi orang yang belum pernah ke Buntet mungkin bingung jam 02.00 dini hari para Kyai dan santri sedang sibuk mempersiapkan makan. Saya sendiri bingung kalo harus memberi nama apa makan dini hari seperti itu. Kecuali untuk sahur bagi orang yang berpuasa. Padahal kami semua tidak hendak berpuasa. Mungkin kalo orang bule menyebut breakfast campur lunch menjadi brunch, nah ini dinner campur breakfast jadi apa yah?. Kalau boleh saya buat nama baru mungkin lebih baik di sebut "dinfast", dinner campur breakfast, yah kalau boleh saya sebut begitu, orang Buntet biasa menyantap "dinfast" dengan menu yang harus di masak terlebih dahulu. Ini sedikit gambaran tentang Buntet. Sebuah perkampungan kecil dimana medan waktu berhenti, atau terkadang waktu berputar lebih dari 24 jam sehari. Datanglah ke Buntet, maka anda akan merasakan "Waktu Yang Berhenti".
Jam 04.00 dini hari dari jauh terdengar sayup-sayup Man Mursyid sudah mulai mengumandangkan ayat suci al-qur'an dari corong speaker Masjid Jami Buntet dengan gaya tilawahnya yang khas. Saya pun pamit kepada Kang Imat kembali ke kediaman KH.Hasan Busyrol Karim yang berada tepat di depan Masjid untuk berganti baju dan melaksanakan solat berjamaah di Masjid. Jalan kaki dari rumah Kang Imat ke Masjid mungkin sekitar 500 meter atau 10 menit dengan berjalan kaki. Di perjalanan saya melawati kediaman KH. Ahmad Manshur yang biasa disapa dengan panggilan Kang Mamad. Rupanya beliau juga sudah siap menuju masjid, karena memang Kyai yang satu ini yang senantiasa istiqomah solat berjamaah di Masjid. Kang Mamad juga merupakan salah satu imam Masjid Buntet. Semasa sekolah di Madrasah Aliyah NU Buntet saya belajar kepada beliau Ilmu Ushul Fiqih dengan kitab sandingan Qowaid al-Fiqhiyah dan Al-Asyabah Wan Nadho'ir. Kyai yang satu ini terkenal nyentrik dan sangat fanatik terhadap tradisionalitasnya disamping beliau juga jawara-nya Bahtsul Masa'il Diniyah.
Saya ingat dulu saya ngaji khusus sendiri ke beliau setiap malam pukul 23.30 malam hingga pukul 01.00 dini hari. Terkadang saya juga membangunkan beliau jika beliau sudah tertidur terlebih dahulu sebelum saya datang di kediaman. Di hadapan beliau saya di beri pengajian dengan "sistem sorogan" yakni sebuah motode pengajaran dimana seorang santri diwajibkan untuk membaca sendiri kitab klasik tanpa harakat beserta maknanya. Selanjutnya sang Kyai menjelaskan pengertian yang di maksud oleh pengarang kitab beserta contoh-contoh kasus yang terjadi dalam masyarakat secara aktual. Selanjutnya sang Kyai membuka ruang untuk berdiskusi atau sekedar tanya jawab. Saya sungguh sangat mengagumi metode ini, sebuah metode yang sangat partisipatif layaknya pengajaran di kampus-kampus perguruan tinggi. Karena mungkin sudah malam saya terkadang kelelahan terlelap sebentar dan bangun lagi ketika Kang Mamad memberi penjelasan Kitab Fathul Mu'in yang sebelumnya saya baca beserta artinya dulu.
Maklum juga, sejak pagi saya sudah mulai aktifitas berat hingga malam hari. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah saya selalu belanja di pasar Mertapada untuk makan siang santri lain dan mengepel kediaman Kyai. Latar belakang keluarga saya yang kurang mampu sehingga saya merupakan salah satu dari ratusan santri Buntet yang "mondok gratis". Termasuk sekolah pun saya selalu mendapat subsidi dari pemerintah sehingga saya merupakan siswa langganan bea siswa. Di pesantren, santri model saya ini di sebut Khodam Kyai yang artinya "pembantu Kyai". Tapi dengan menjadi pembantu Kyai saya merasa lebih dekat kepada Kyai serta termotivasi untuk senantiasa berbuat baik agar mendapat ridlo dan barokah dari Kyai. Tapi malangnya terkadang para santri melampiaskan kelelahannya dengan tidur bukan pada jamnya. Memang dasar pemalas!.Saking malasnya saya pernah di jewer oleh KH. Salim Effendy dan disuruh untuk menghitung jumlah langkah kaki dari pondok ke sekolah Madrasah Aliyah yang jaraknya cuma 50 meter, he.he.. sebuah pengalaman yang memalukan.
Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Buntet Pesantren Cirebon disingkat MANU BPC merupakan salah satu sekolah formal setingkat SLTA yang ada di Buntet Pesantren. Pada saat itu kepala sekolah MANU BPC adalah KH.Hasanuddin Kriyani seorang tokoh di Buntet Pesantren yang sudah mempunyai jiwa kepemimpinan sejak muda. Beliau sekarang menjabat Rois Suriyah PCNU Kabupaten Cirebon. KH.Hasanuddin Kriyani merupakan sosok yang sangat tegas, disiplin serta visioner. Beliau merupakan sosok ideal untuk sekolah formal di lingkungan pondok pesantren. Yang paling di ingat oleh para santri siswa MANU adalah ketika beliau menyampaikan amanat Pembina Upacara pada setiap upacara bendera hari Sabtu. Maklum di Buntet libur sekolah dan pengajian semuanya hari Jum'at, jadi upacara Bendera diadakan tiap hari Sabtu. Suara beliau yang lantang, bergetar dan terkadang mengelegar. Nasihatnya begitu jelas dan selalu terngiang-ngiang di kepala semua siswa. Sebagai Kepala Sekolah beliau sangat di segani oleh segenap Dewan Guru, bahkan banyak sekali guru dari luar yang ikut mengajar di MANU BPC juga merasa menjadi santri beliau dan berharap adanya barokah dari ilmu beliau. Kini beliau menjadi salah satu Kyai sepuh di Cirebon yang banyak dimintai masukan dan pendapat dari berbagai lapisan masyarakat.
Selain ngaji kepada KH.Ahmad Manshur, saya tentu ngaji di Asrama C Al-Firdaus. Saya ingat saya belajar kepada Ustadz Qomarul Huda mulai dari Ta'limu Muta'allim (kitab induk berisi etika dan metodologi belajar), Safinatun Najah kitab fiqih dasar di pesantren, Innarotud Duja sebuah kitab penjelasan dari kitab Safinatun Najah dalam bentuk nadzam (syair) yang di beri penjelasan dalam paparan deskriftif (nasyar). Selain kedua kitab tersebut saya juga mengaji kitab nahwu-shorof (Arabic Grammar) Jurumiyah, Nadzam Amrithi, Amtsilatut Tasrifiyah,Nadzam Maqsud. Beberapa kitab fiqih seperti Minhajul Qowwim, Nihayatuz Zain, Bajuri dan lainnya yang tidak saya ingat lagi. Kang Omang panggilan guru saya ini unik, beliau selalu mewajibkan para santri yang mengaji untuk membuat daftar pertanyaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dikaji. Santri tidak dapat bertanya malah di beri sangsi untuk menghafal beberapa pelajaran yang akan datang. Satu hal yang saya ingat, Kang Omang merupakan ustadz yang paling serius, mendalam, teliti dan tuntas kalau mengaji fiqih haidz (menstruasi). Saya tidak tahu juga kenapa Kang Omang sangat bersemangat kalau sedang mengajar fiqih haidz?!. Mungkin kalau ada gelar Doktor di bidang haidz, Kang Omang merupakan salah satu kandidatnya.
Di Asrama C al-Firdaus pula saya sempat belajar dengan Ustadz Fathuddin yang spesialis ilmu Shorof (salah satu cabang Arabic Grammar ), kepada Ustadz Abdurahman putra KH. Muqoyyim Bakri yang semasa hayatnya menjadi Imam Besar di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan Cirebon. Ustadz Abdurahman yang pernah nyantri di Kaliwungu ini mengajarkan Kitab Fiqih Riyadul Badi'ah dengan sangat tenang dan gamblang. Yang paling mengesankan bagi saya adalah pengalaman mengaji Alfiyah Ibnu Malik sebuah kitab referensi utama ilmu nahwu yang kebetulan di ajarkan oleh ustadz Subhi Muta'ad Ilyas. Kang Ukhi panggilan akrab beliau merupakan adik kandung KH. Thobroni Muta'ad Ilyas guru fiqih saya di Madrasah Aliyah dimana Kitab Kifayatul Akhyar merupakan referensi wajib bagi para siswa. KH. Thobroni juga merupakan guru Nahwu yang sangat dicintai oleh para santri bahkan juga putra-putri Kyai Buntet Pesantren sendiri. Beliau telah membuat sebuah Kitab Kompilasi (diktat) di bidang ilmu nahwu sendiri secara singkat dan praktis. Hebatnya diktat tersebut bisa dipelajari oleh semua tingkatan baik mulai kelas basic, elementary maupun advance.
Ustadz Subhi Muta'ad merupakan jebolan Pesantren Sarang Rembang yang sejak kecil belajarnya via jalur madrasah. Sehingga jika waktunya Kang Ukhi menerangkan dengan menggunakan bahasa Indonesia maka akan sangat tidak enak di dengar di telinga. Gaya bahasa melayunya sering tidak tertata rapi, lucu dan aneh. Bagi kami para santri di Asrama C al-Firdaus saat itu selalu usul agar di terangkan menggunakan bahasa Jawa saja atau menggurakan bahasa Arab Fushah (konvensional) sekalian. Tapi yang kami salut adalah tingkat pemahaman beliau terhadap materi yang disampaikan dan jawaban setiap pertanyaan santri yang selalu jelas dan lengkap. Beliau merupakan guru ngaji kami yang tidak pernah absen dalam mengajar. Bahkan, dalam cuaca hujan pun beliau selalu datang mengajar dengan berjalan kaki dan membawa payung sementara kitab beliau masukkan kedalam baju beliau. Sebuah sikap yang sangat bersahaja, ikhlas dan sangat mengagumkan bagi kami santri yang bisa belajar pada beliau. Jika ingat beliau saya bukan hanya kagum tapi juga sering menitikkan air mata mengingat mutiara keikhlasan di akhir jaman ini. Kang Ukhi jugalah yang senantiasa memberi nasihat bahwa para santri jika ingin ilmunya bermanfaat harus keluar (bahasa santrinya; boyong) dari Buntet harus dalam keadaan paling diridlai. Karena di situlah berkah dan doa para guru akan senantiasa mengalir. Beruntung saya mempunyai guru seperti beliau.
Bagi saya pribadi, Kyai Buntet yang paling berpengaruh dalam membentuk pribadi saya adalah KH. Fakhruddin Mulyono dan KH. Hasanuddin Busyrol Karim. Kakak beradik yang juga mempunyai isteri kakak beradik tersebut bukan hanya guru bagi penulis tapi juga sudah merupakan orangtua sendiri. Bimbingan, nasihat, suri tauladan dan ilmu yang tidak ternilai selalu di ajarkan oleh keduanya. KH. Fakhruddin Mulyono kalau boleh saya gambarkan disini beliau adalah seorang Kyai dan juga seorang ahli Hikmah (supranatural). Sejak pertama penulis masuk Pondok Buntet Pesantren tahun 1997 penulis senantiasa melihat beliau istiqamah menjadi aurad lailiyahnya di Masjid Jami Buntet Pesantren. Mulai pukul 12.30 malam hingga subuh tiba beliau tidak pernah bergeser dari tempat duduk beliau di depan jam dinding masjid bertuliskan "M Nitisemino" sambil terus memutarkan butiran tasbihnya. Setelah mengimami solat subuh beliau selalu berkumpul di kediamannya dengan orang-orang tua Buntet yang juga istiqamah solat subuh berjamaah di masjid. Hal tersebut dijalankan beliau hingga bertahun-tahun hingga akhir hayat beliau.
Saya merupakan saksi hidup atas karomah yang beliau miliki. Mulai dari orang yang sakit medis, psikis, orang yang kesusahan terkena pailit, hingga yang mau maju Pilkada banyak sekali yang datang ke beliau. Pernah suatu ketika seorang Kyai dari Pandeglang Banten datang dan memohon agar dibantu permasalahannya. Ternyata sang Kyai dari Pandeglang tersebut mempunyai khodam jin muslim laki-laki dan sudah lebih dari satu minggu mengamuk terus karena minta di nikahkan dengan jin muslimah. Akhirnya KH. Fakhruddin menyanggupi untuk segera menyiapkan upacara pernikahan di alam jin tersebut. Bisa di bayangkan seperti apa resepsinya yah, pastinya sangat meriah lah. Seingat saya ini kejadian tahun 2000 semasa saya senantiasa mendampingi beliau. Banyak lagi hal-hal mistis, ghaib dan daya linuwih beliau yang tidak bisa diceritakan satu persatu disini.
Sementara KH.Hasanuddin Busyrol Karim adalah seorang pribadi yang sangat bersahaja. Beliau senantiasa mengajaran Kitab Jawahirul Kalamiyah sebuah kitab di bidang tauhid (teologi) dan Taisirul Kholaq sebuah kitab berisi tata kerama dan etika dalam kehidupan sehari-hari. KH.Hasunuddin Busyrol Karim adalah pribadi yang lebih banyak merenung dan berusaha, bicaranya sangat sedikit hanya seperlunya. Tapi wawasan beliau yang luas membuat beliau banyak bergaul dengan berbagai kalangan. Kepemimpinan beliau dalam Koperasi Pondok Buntet Pesantren juga memposisikan beliau banya bergaul dengan kalangan dunia usaha. Sifat wela asihnya kepada santri membuat setiap nasihatnya pasti akan senantiasa diingat dan dicamkan dalam hati. Gaya bicaranya dalam, metaforis, jarang sekali terlihat marah dan senantiasa melakukan zikir malam di kediaman beliau. Banyak beberapa pengusaha non muslim yang beguru ataupun berkawan dengan beliau yang akhirnya membaca syahadat, mengesakan Allah Ta'ala dan mengakui Muhammad SAW adalah utusannya.
Kedua ulama inilah yang selalu menggembleng saya untuk terus mutholaah (belajar) dan memelihara himmah (cita) setinggi mungkin. KH. Fakhruddin paling sering memerintahkan saya puasa untuk melatih mental spiritual. Mulai dari puasa "ngasrep" atau orang pesantren menyebutnya puasa tarak. Di sebut tarak (tarku ma lahu ruh) karena dalam puasa tersebut kita tidak di perkenankan memakan segala sesuatu yang bernyawa. Kadang juga saya diharuskan melakukan puasa mutih yang hanya boleh berbuka dan sahur dengan meminum air putih dan makan nasi putih. Yang tersulit adalah puasa "undur-undur", sebuah ritual puasa dimana dalam hitungan mundur selama satu pekan saya hanya boleh makan nasi putih dan air putih ketika adzan magrib di kumandangkan. Di sebut "ngundur-undur" karena hitungan nasi yang dimakan dihitung menyusut kebelakang selama satu pekan. Di hari pertama puasa saya di perkenankan memakan tujuh kepalan tangan dan air putuh, besoknya lagi hanya di perboleh 6 kepal nasi, hari ketiga puasa menyusut menjadi 5,4,3,2,1 dan akhirnya hanya segelas air putih yang boleh saya minum. Itupun hanya dikala buka puasa karena puasa model ini tidak di perkenankan menyantap sahur.
Adapula ritual puasa "ngebleng". Taraf kesulitan puasa ini masih jauh dibawah puasa "ngundur-undur" karena hanya tidak diperkenankan makan sahur tetapi ketika berbuka kita bisa menyantap makanan apa saja. Asal jelas kehalalannya. Setelah berbuka waktu magrib tiba, kita diwajibkan berniat puasa lagi hingga waktu magrib hari esok datang lagi. Yang tak kalah repotnya adalah ritual "mati geni". Ritual ini dilakukan selama 24 jam mulai terbit fajar hingga terbit fajar lagi dihari kedua. Selama ritual kita tidak boleh makan dan tidur walaupun hanya sekejap mata. Kita hanya diwajibkan membatalkan puasa ketika magrib tiba dengan hanya meminum segelas air putih dan selanjutnya berpuasa lagi.
Pernah juga saya di perintahkan Kyai untuk berziarah ke Maqbaroh (kuburan) para ulama Buntet setiap tengah malam dan tidak boleh di temani satu orang pun. Tentu ke kuburan bukan untuk uji nyali atau meminta pada orang yang sudah meninggal, tapi untuk menambah taraf keimanan saya. Pesan Kyai, "kamu berziarah malam hari ke kuburan yang sunyi dan hanya sendirian bukan untuk apa-apa. Tetapi agar kamu dapat mengimani satu hal. Yaitu bahwasanya tidak ada satu makhluk pun yang dapat melukai, menciderai dan membinasakan diri kita kecuali Allah. Begitu juga sebaliknya agar kamu bertambah iman bahwa tidak ada satu makhluk pun yang mampu member manfaat pada diri kita tanpa izin Allah SWT". Jika bukan karena spirit sebagaimana yang disampaikan Kyai tentu kita akan ketakutan ketika hal-hal gaib terlintas di depan kita. Dengan mata telanjang dan keadaan sadar pulu. Kalau saya ingat-ingat seram juga yah. Pesan Kyai tersebut sampai sekarang masih selalu terekam jelas dalam ingatan saya. Yah..semua itu dulu ketika saya masih di pesantren, sekarang setelah tinggal di Jakarta, jangankan puasa mutih untuk diet mengurangi makan pun terasa susah.
Dari tahun 1997 sampai tahun 2004 penulis nyantri di Pondok Buntet Pesantren, begitu banyak merasakan kehangatan dan kemilau ilmu yang senantiasa bersinar. Sinar yang bukan hanya mampu menerangi kegelapan hati tapi bahkan mampu merubah kegelapan sosial. Salah satu cahaya ilmu tersebut terlihat dari seorang Ulama Besar, Rais Syuriah PBNU, Ketua Ittihadul Muballighin, Professor di Bidang Tafsir, Mahaguru Nan Digdaya bagi BANSER NU. Beliau adalah KH.Muhammad Anisul Fu'ad Hasyim. Seorang orator ulung, singa podium yang memulai dakwahnya dari panggung ke panggung mulai usia yang sangat belia yakni 18 tahun hingga akhir hayatnya di usia 63 tahun. Sebuah dedikasi besar, life time dedication. Mutiara Akhir Zaman dengan daya ingat diatas rata-rata dan kecintaan belajarnya yang "ottodidak internasional". Ulama yang juga santri kembara ini sejak remaja sudah terlihat daya linuwihnya, orang pesantren bilang ilmu ladunni. Beliau dilahirkan hari senin wafat juga hari senin dalam usia 63 tahun, sungguh metamorfosa kehidupan Rasulullah SAW di dunia.
Allamatus Syeikh Fuad Hasyim menghabiskan ilmunya untuk menebarkan dahwah islamiyah dan ilmu agama bukan hanya bagi masyarakat sekitar tapi juga skala nasional bahkan internasional. Di tingkat regional beliau sangat dekat dan senantiasa menjalin komunikasi dengan ulama-ulama di Malaysia, Thailand, Philipina, Kamboja, India terlebih ulama di Timur Tengah sana. Hal ini di pernah ungkapkan kepada saya langsung, bahkan beliau bukan hanya hafal nama dan alamat ulama tersebut di negara masing-masing, tapi berapa kilometer jarak dari air port?, menggunakan kendaraan apa untuk dapat sampai ke tujuan?, hingga tradisi tahunan yang di laksanakan oleh ulama tersebut beliau hafal diluar kepala. Apalagi jika berbicara tentang sejarah Nabi dan para sahabat beliau adalah gudang ilmunya. Daya ingat yang tiada bandingannya tersebut merupakan salah satu karomahnya. Jangan salah Kyai Fuad Hasyim juga mampu berkomunikasi aktif dengan puluhan bahasa manusia di dunia ini. Berhadapan dengan beliau bagaikan melihat matahari yang sangat besar, sungguh terang benderang, terkadang berubah menjadi laut yang memiliki palung sangat dalam yang tidak mungkin diselami oleh manusia manapun.
Di tengah keadaan beliau yang sedang sakit dan di bantu satu tongkat penyangga kaki beliau masih terus berdahwah sampai ke pelosok negeri bahkan ke daerah pegunungan seperti kampung saya. Mang Royan supir pribadi beliau sering bercerita pada saya bahwa sang Kyai seringkali tidur di masjid untuk menunggu jadwal pengajian di pagi hari di kota yang sama atau didaerah yang berdekatan dengan pengajian sebelumnya. Bahkan terkadang melewati daerah yang jauh dari perkampungan sehingga ketika sang Kyai Besar tersebut hendak buang air harus turun ke kali dibantu Mang Royan yang menyiapkan air untuk bersucinya dengan ember yang selalu ada di mobil. Sungguh pengorbanan dan perjuangan yang tidak ternilai oleh Ulama Besar sekaliber KH.Fuad Hasyim. Ini semua tentu hanya demi li i'lai kalimatillah (menunggikan asma Allah).
Tapi inilah mungkin tugas yang diamanatkan Tuhan kepada sang Kyai pencipta Syair Nahdlatul Ulama tersebut. Kamar tidur beliau hanya di hiasi oleh lampu baca dan tumpukan kitab yang entah berapa ratus judul jumlahnya. Walaupun beliau senantiasa menggunakan Mobil Mercy tetapi jika melihat ke kamar beliau sangat memprihatinkan, hanya sajadahnya saja yang senantiasa bersih, sementara beliau tidur diatas tempat tidur yang sangat tidak layak. Inilah filosofi hidup Kyai Fuad bahwa kesederhanaan di ruang privat tersebutlah yang akan senantiasa mengingatkan beliau pada Tuhannya, Allah azza wa jalla. Dalam setiap kesempatan Habib Lulthfy Bin Yahya senantiasa menyampaikan bahwa KH.Fu'ad Hasyim merupakan kawan seperjuangan beliau, senafas, seirama.
Kini , alhamdulillah putra-putri beliau dapat meneruskan perjuangan beliau, KH. Luthfy El-Hakim, MA, KH. Abbas Billy Yachsy,MA dan KH. Faris al-Haq sekarang juga telah menjadi mubalig kondang yang senantiasa padat jadwal ceramahnya. KH. Luthfy el-Hakim juga meneruskan perjuangan ayahandanya dalam mendidik santri dengan menjadi pengasuh di Asrama L Pesantren Nadwatul Ummah. Sementara KH. Abbas Billy Yachsy,MA merupakan Kyai muda yang sangat cerdas dan tekun. Sekarang Kang Babas panggilan akrabnya beliau sedang menyelesaikan tahap akhir penulisan Disertasi Doktoralnya di UIN Jakarta.
Mutiara lain yang senantiasa bersinar di Buntet adalah KH.Abdullah Abbas, ulama tiga zaman ini merupakan "jimat" bagi masyarakat Buntet dan Paku Bumi bagi Masyarakat Jawa Barat. Beliau adalah "Jimat" karena kemurahan hati dan keterjagaan beliau dari perilaku yang kurang baik. Ada juga istilah yang senantiasa di sampaikan KH. Kholil Bisri ataupun adik beliau KH. Mustofa Bisri pada awal tahun 2000-an. Bahwa paku bumi tanah Jawa adalah Triple A; Abdullah Faqih di Jawa Timur, Abdullah Salam di Jawa Tengah dan Abdullah Abbas di Jawa Barat. Berbagai penghargaan dari berbagai kalangan baik dari masyarakat hingga negara telah beliau terima. Pengabdian sepanjang masanya juga telah memposisikannya dalam berbagai macam jabatan puncak pada organisasi sosial keagamaan seperti di PWNU, PBNU hingga Idarah ‘Aliyah Jam'iyah Ahlu Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Namun kesederhanaan Mbah Dullah demikian panggilan hormat masyarakat sekitar tidak berubah. Sosok ulama yang sangat tawadlu dan sederhana. Keikhlasan merupakan filosofi hidup yang selalu beliau pegang teguh. Diam, sabar dan ikhtiar merupakan garis juang Mbah Dullah. Sebagai sesepuh pesantren dan sesepuh masyarakat Jawa Barat, Mbah Dullah tidak pernah sepi dari tamu di kediamannya. Mulai dari para santri, murid tarekat, hingga para umaro silih berganti mendatangi beliau. Tokoh sentral dalam suksesi kepemimpinan KH.Abdurahman Wahid ke Istana Negara ini, pada pemilu 2004 juga dijadikan rujukan oleh hampir semua kandidat Capres dan Cawapres Republik Indonesia.
Tentu hal ini ada yang melatarbelakanginya, sehingga Mbah Dullah begitu dimuliakan masyarakat. Mantan laskar Hisbullah ini selain merupakan pembesar tarekat Syathoriyah dan sesepuh pesantren Jawa Barat, beliau juga seorang mantan pejuang Negara yang banyak makan asam garam perpolitikan nasional. Mulai zaman revolusi fisik, peristiwa pemberontakan DI TII hingga peristiwa pemberontakan PKI di tahun 1965 beliau selalu menjadi pelaku sejarah. Banyak sekali sejarah kelam bangsa yang terekam apik dalam ingatan beliau. Ketika beliau bercerita sejarah republik ini, walau diusia yang sudah udzur, masih sangat runut dan detail. Pada momentum tertentu pernyataan dan sikap Mbah Dullah sangat di tunggu-tunggu oleh masyarakat Jawa Barat. Hingga akhir hayat kediaman Mbah Dullah tidak henti-hentinya menjadi tempat Halaqah Ulama menyikapi persoalan bangsa, baik mulai level Jawa Barat maupun level nasional. Mbah Dullah telah purna bakti dalam mendedikasikan hidupnya untuk Buntet, NU dan Bangsa.
Ulama sepuh lainnya di Buntet Pesantren adalah KH. Abdul Hamid Anas dan KH.Abdullah Syifa Akyas. Kyai Hamid merupakan putra KH.Anas Abdul Jamil. Seorang Kyai tasawuf yang juga sangat sedikit berbicara. Sehingga tiap ucapan yang keluar dari Kyai Hamid senantiasa bagaikan mutiara. Beliau merupakan tempat bertanya bagi masyarakat Buntet sendiri. Beliaulah pemangku kehidupan beragama di Buntet. Pada masa hayatnya KH.Abdullah Abbas, KH.Fuad Hasyim, dan KH. Abdul Hamid Anas merupakan Tri Tunggal yang sangat ideal mengelola dan mengarahkan Buntet Pesantren. Walaupun tidak pernah terekspos Kyai Hamid adalah salah seorang pejuang 65. Inisiator pergolakan santri Jawa Tengah menumpah pemberontak PKI.
Sebulan sebelum kejadian Gerakan 30 September PKI, tepatnya tanggal 17 Agustus 1965 pemerintah Kabupaten Demak mengadakan pagelaran kesenian rakyat dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat termasuk Pesantren. Pada waktu itu KH.Abdul Hamid Anas masih menjadi lurah pondok di Pesantren Mranggen Demak Jawa Tengah di bawah asuhan Mbah Muslih. Untuk berpartisipasi dalam pagelaran tersebut, Mbah Muslih merintahkan Kyai Hamid muda untuk mengadakan pertunjukan debus. Kyai Hamid muda pun menyanggupi, padahal sebelumnya beliau telah mempersiapkan pertunjukan drama teateretikal yang dilatih oleh kader-kader Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Islam) NU Jawa Tengah. Mulailah sang Lurah Pondok tersebut mengumpulkan kawan-kawannya dari Cirebon untuk dilatih debus. Pertunjukan pun di mulai, adegan demi adegan pun di pertontonkan. Kyai Hamid memimpin perhelatan dengan menampilkan aksi kebal bacok, menggunakan kalung petasan yang sebelumnya telah di nyalakan sumbunya, minum air tiga ember, hingga menghilang dari kerumunan masa. Jawara-jawara kecil ini pun mulai mendapat tepuk tangan meriah dari semua pengunjung yang menyaksikan.
Pada saat bersamaan ternyata antek-antek PKI sedang mempersiapkan Kudeta dengan menculik para Jenderal dan Tokoh Kunci Masyarakat. Tanggal 30 September, pemberontakan PKI pun terjadi di susul benturan sosial (social clash) dimana-mana. Negara dinyatakan dalam keadaan darurat dan tragedi kemanusiaan tersebut telah merengut banyak korban. Tidak hanya kalangan militer yang di incar tetapi juga para tokoh NU. Hingga akhirnya Kyai Hamid muda mendapat surat dari Cirebon yang isinya menyatakan bahwa di berbagai daerah telah serempak menyerukan penumpasan PKI. Peristiwa kelam anak bangsa yang hingga saat ini belum terjawab siapa sebenarnya yang menjadi dalang semuanya.
Kyai Hamid muda segera bertindak dengan meminta arahan dari ketua PWNU Jawa Tengah saat itu KH.Abdul Hadi yang juga dari Mranggen. Selanjutnya kontak konsolidasi pesantren Jawa Tengah yang meliputi Mranggen Demak, Rembang, Kaliwungu Kendal dan Mangkang di komandoi oleh Kyai hamid muda. Operasi penumpasan pun sukses walau akhirnya ada dua orang santri dari Kaliwungu Kendal yang hilang tanpa jelas rimbanya. Para tokoh PKI di tangkap oleh para santri bersama Banser dan Ansor NU selanjutnya diserahkan ke kantor Koramil atau Kantor Polisi setempat. Peristiwa ini pulalah yang akhirnya membuat tersohor tentang kesaktian Kyai Hamid dan kawan-kawannya dari Cirebon yang dikenal dengan "Santri-santri Jawara dari Cirebon". Sejak saat itu semua santri Cirebon jadi santri kelas VIP di Mranggen. Di jalan di pasar, ataupun di pesantren mereka sangat di segani. Bahkan petugas pos pun rela mengantarkan secara ekspres kiriman surat ataupun wesel dari Cirebon langsung ke bilik-bilik santri. Mungkin karena takut kena jurus silat santri-santri Cirebon!
Berbeda dengan Kyai Hamid, Kyai Syifa (panggilan singkat KH. Abdullah Syifa Akyas) adalah seorang hamilul qur'an (orang yang senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai way of life-nya). Selain beliau adalah seorang Hafidz Qur'an beliau senantiasa mewiridkan al-Qur'an. Bukan hanya bagi masyarakat Buntet tapi beliau juga menjadi rujukan masyarakat sekitar. Di setiap hari Kamis di kediaman Kyai Syifa senantiasa diadakan pengajian rutin untuk masyarakat umum. Pengajian rutin untuk masyarakat sekitar terbut sudah dijalankan oleh ayahandanya, KH. Akyas Abdul Jamil. Saat ini Kyai Syifa juga menjadi salah satu Khalifah Tarekat Tijaniyah yang masyhur. Semasa hayatnya Kyai Buntet lainnya yang memangku gelar Khalifah Tarekat Tijaniyah adalah KH. Junaidi Anas kakak kandung KH. Abdul Hamid Anas yang juga sesepuh pesantren Sidamulya Cirebon dan juga KH. Fahim Chawi.
Kang Aying panggilan akrab KH. Fahim Chawi semasa hayatnya juga menjabat sebagai Katib Syuriah PWNU Jawa Barat dimana KH.Abdullah Abbas sebagai Rois Syuriahnya. Biasanya setiap solat Jum'at di masjid Buntet senantiasa digelar wirid berjamaah tarekat Tijaniyah oleh para pengikut tarekat yang di pimpin Kyai Syifa. Di kediaman beliau juga sering di gelar pembacaan Manaqib Syeikh Ahmad At-Tijani bersama para murid tarekatnya. Saya sendiri pernah mengaji Kitab Tafsir Surat Yasin kepada Kyai Syifa. Dalam setiap kesempatan pengajian Kyai Syifa senantiasa menyampaikan isi kitab Kasykul (penulis sendiri tidak pernah melihat kitab tersebut) yang isinya mengenai anekdot sufi. Memang, hampir semua ulama Buntet mempunyai selera humor tinggi baik yang tua maupun yang muda.
Begitu hangat dan indahnya hidup bersama para ulama, dengan kehidupan yang begitu bersahaja. Buntet memang surga bagi para pencari ilmu. Setiap malam para santri senantiasa bergulat dengan pelajaran dirasah diniyyah (pendidikan agama) hinggu pukul 23.00 malam, setelah itu mulai asyik bercengkerama sambil menikmati segelas kopi ataupun minuman khas Buntet, teh upet panas di seduh bersamaan dengan gula batu yang manis. Orang Buntet menyebutnya Teh Tubruk. Biasanya para santri karena diminum rame-rame dan peralatan minum yang tidak lengkap, mereka menggunakan gayung yang biasa untuk mandi sebagai gelas dan jika tidak ada sendok untuk mengaduk gula batu mereka sering menggunakan ujung sikat gigi sebagai penggantinya. Ya..Tidak ada rotan akarpun jadi, tidak ada sendok sikat gigi pun jadi. Yang penting puas sambil ketawa-ketiwi atau sambil main tebak tebakan kalo tidak saling pijit badan bergantian. Kadang juga walau jam di dinding sudah menunjukkan jam 01.00 dini hari tapi masih terdengar suara air bergemuruh di kamar mandi, itu biasanya santri sedang mencuci baju mereka.
Memang kehidupan pesantren mempunyai pola hubungan, jadwal kegiatan, karakteristik dan siklus hidup tersendiri. Maka pantas jika kehidupan pesantren disebut Sub-Kultur Sosial tersendiri seperti sering di ungkapkan Gus Dur. Namun terus terang saya sering keki sendiri kalo ingat masa nyantri dulu. Ada beberapa sifat buruk yang susah sekali di tinggalkan para santri. Yaitu kebiasaan tidur hingga lupa waktu dan pola hidup kotor karena malas bersih-bersih. Padahal di depan pintu masuk pondok terpampang jelas slogan "Annadhofatu Minal Iman ;kebersihan sebagian dari iman". Siapa yang salah kalo sudah begini yah?!, saya jadi ingat pesan KH.Nahduddin Royandi Abbas, sesepuh baru kami di Pondok Buntet Pesantren menggantikan kakak beliau KH.Abdullah Abbas yang baru saja berpulang kerahmatullah. Kata Mbah Dien (sapaan hormat KH.Nahduddin) "di pesantren itu al-qur'an dibaca tiap hari, hadits ting blegedek (hadits banyak sekali di nukil), kyainya alim-alim, tapi suruh hidup bersih saja tidak bisa". Itulah sindiran khas gaya Mbah Dien.
Mbah Dien merupakan sesepuh kami yang baru dan mungkin merupakan sesepuh paling eksentrik. Dalam setiap kesempatan beliau tidak pernah mengenakan baju kebesaran khas para Kyai. Tetapi beliau selalu konsisten memakai baju kemeja lengan pendek, peci hitam dan sarungan saja. Beberapa Kyai Buntet sampai membelikan baju koko (busana muslim) ataupun batik berharap Mbah Dien merubah penampilannya, tetapi nampaknya usaha para Kyai Buntet tersebut belum berhasil. Karena Mbah Dien tetap konsisten dengan costumnya. Maklum saja walau di usianya sudah kepala tujuh tapi Mbah Dien ini bukan sembarangan Kyai. Beliau merupakan santri kelana dan "Ulama Trans-Nasional" yang sejak muda hidupnya dihabiskan diluar negeri. Awalnya beliau menetap di Saudi Arabia sebagai staf kedutaan di sana. Selanjutnya Mbah Dien menetap di London Inggris bersama keluarganya dan saudaranya yang bernama KH. Ghozi Mujahid adik kandung KH.Imamuddin Mujahid perintis KBIH Buntet Pesantren.
Sejak awal berdirinya hingga sekarang organisasi NU Cabang Khusus London telah menetapkan Mbah Dien sebagai Musytasyarnya. Beliau merupakan figur yang sangat demokratis, lurus dan paling sering melancarkan auto kritik. Saya kira hal terakhir ini yang paling penting untuk di alamatkan ke pesantren. Pola hubungan adi luhung (ningrat) membuat pesantren sering dianggap feodal sehingga kritik merupakan hal yang kadang tabu. Jarak sosial antara Kyai dengan masyarakat biasa kadang terlalu menganga. Tapi hal itu tentu tergantung bagaimana peranan tokoh sentral di pesantren tersebut. Karena paternalisme di pesantren sangat kental, semua digerakkan oleh kharisma tokoh.
Mbah Dien misalnya senantiasa berpesan kepada segenap pengasuh pondk di Buntet bahwa modal membina umat hanyalah dua hal jujur dan ikhlas. Selanjutnya beliau menambahkan jika kita sendiri tidak bisa melakukan dua hal tersebut, maka jangan salahkan kalangan luar menganggap pesantren secara miring. Pada suatu kesempatan Mbah Dien memberikan pengarahan kepada pengurus Forum Silaturahmi Pondok Buntet Pesantren di Jakarta. Beliau menekankan dalam membangun sebuah organisasi yang kokoh di perlukan semangat membaja dan pantang menyerah. Tidak harus dilakukan oleh organisasi besar dan massal, dalam setiap kebijakan organisasi yang terpenting adalah memulainya bukan hanya mendiskusikannya, karena tanpa di mulai tidak mungkin semua program akan teralisasi.
Sekali lagi, saya begitu merasa bangga dengan almamater saya. Rasanya semua kekeringan ilmu tersirami dengan deras di Buntet Pesantren. Walaupun kata senior saya di Buntet, saya tidak mengalami masa keemasan Buntet dimana para ulama masih lengkap. Tentu, saya hidup di masa sekarang, bukan di jaman dahulu yang lampau. Tapi saya terkadang membayangkan bagaimana rasanya jika saya mengalami masanya KH. Mustahdi Abbas dimana para santri sering melihat kerumunan jin yang juga bersama-sama para santri mengaji kepada sang Kyai. Tasbih dan kitab kadang terlihat berjalan sendiri. Terlintas juga KH. Chawi yang senantiasa menangis ketika mengucap dan mendengar asma Allah. KH. Zen yang mempunyai beberapa putra dan cucu yang semuanya alim. Ada yang menjadi anggota DPR RI yakni KH.Nu'man Zen bahkan ada yang menjadi Qori Internasional KH. Fuad Zen.. KH. Imam yang ahli dalam bidang falak (astronomi) Buntet Pesantren. Pencipta perhitungan waktu solat seumur hidup ini bahkan mampu menghitung kapan daun akan jatuh dari pohon, atau bunga kapan akan mekar dan layu. Ada juga KH. Arsyad yang mempunyai banyak santri dan alim-alim, KH. Hasyim seorang ulama pejuang yang sangat jujur dan senantiasa memakmurkan masjid dengan al-Qur'an.
KH. Mustamid Abbas salah seorang sesepuh Buntet Pesantren yang pernah menjabat sebagai anggota MPR RI utusan Nahdlatul Ulama'. Beliau seorang tokoh yang mempunyai hubungan luas dengan para petinggi negara. Kyai Mustamid pulalah yang menjadi salah satu pelopor pesantren sehingga menerima Pancasila sebagai azas ideologis bangsa. Saya pernah mendapat ceritera dari salah seorang staf pimpinan DPR RI yang hingga saat ini masih bertugas. Namanya Saefuddin staf khusus Bapak Agung Laksono Ketua DPR RI. Beliau asli Jawa Timur, setiap kali berangkat ke Jakarta dari kampung halamannya beliau selalu mampir ke Buntet. Walaupun belah pernah mondok, beliau sudah merasa sebagai santri Buntet. Katanya dahulu Kyai Mustamid ketika bersidang selalu menggunakan sarung dan peci, Kyai Mustamid menjadi seorang yang sangat di segani di senayan karena kharisma dan wibawanya yang tinggi. Bahkan banyak kolega beliau yang mengangkatnya sebagai guru dan orang tuanya. Hingga ada kolega beliau di MPR RI waktu itu yang berwasiat agar dapat di kuburkan di Buntet Pesantren.
Saya juga sering mendapat cerita dari para senior saya di pesantren tentang kealiman tiga bersaudara; KH. Izzudin, KH. Nasirudin dan KH. Anwaruddin. Ketiganya merupakan putra KH. Ahmad Zahid seorang ulama besar Buntet Pesantren yang sangat zuhud dan istiqomah. Beliau adalah legenda hidup pada zamannya. Dulu katanya pengajian begitu ramai, kitab-kitab besar berjilid-jilid selalu dikaji dalam waktu yang cukup singkat. Santri begitu termotivasi untuk belajar dan bersemangat dalam setiap muhadharah (pentas keilmuan) santri. Para putra kyai semuanya juga mengikuti pengajian di tempat KH. Izzudin dan KH. Nashirudin. Sementara KH. Anwaruddin menjadi pimpinan tertinggi "Angkatan Darat" Buntet Pesantren. Beliau tidak segan-segan memberi sangsi atas semua kesalahan fatal yang dilakukan santri. Di sisi lain beliau merupakan benteng bagi semua orang dan kepentingan yang ingin merusak harmoni kehidupan pesantren.
Lebih-lebih, saya tidak terbayang bagaimana jika saya merasakan masa awal-awal keberadaan Buntet Pesantren dimana KH. Abdul Jamil bersama putra putrid beliau masih berkumpul. Mulai dari KH. Abbas putera tertua yang merupakan tokoh sentral dan paling legendaris dari Buntet. Sejuta ceritera dan testimonial para santri atau pengikut beliau telah banyak di tulis dan di bukukan. Kajian kesejarahan dan perjuangan jaman revolusi fisik juga tidak kurang dalam mengetengahkan ketokohan beliau. KH. Akyas adik kandung Kyai Abbas adalah seorang Allamah, Hafidzul Hadits serta guru para Kyai di Buntet. KH. Anas bin Abdul Jamil juga merupakan tokoh yang sangat fenomenal. Pembawa tarekat Tijaniyah ke tanah Jawa ini sudah terkenal kassyaf (mengetahui hal yang gaib) sejak usia belia.
Berbeda dengan ketiga saudaranya KH. Ilyas merupakan ulama alim yang sangat zuhud dan wara'. Beliau senantiasa membersihkan pelataran masjid serta berjalan kaki walaupun untuk menuju tempat yang cukup jauh. Atau KH. Murtadlo, karib KH. Munawir Krapyak Yogyakarta ini merupakan peletak dasar ilmu al-Qur'an di Buntet Ah, itu semua adalah masa lalu mungkin ilmu para ulama bisa saja terkubur bersama kepergiannya ke alam barzah. Para pendahulu kini telah mendapatkan tempat yang layak di hadirat Allah SWT.Namun fondasi yang begitu kokoh diletakkan para founding father Buntet Pesantren hingga kini masih berdiri tegak.
Saya sangat bangga dengan Buntet Pesantren, karena proses regenerasi kepemimpinan dan keilmuannya sangat baik. Seiring dengan meninggalkan para pendahulu kini muncul kader-kader ulama muda Buntet Pesantren yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah KH. Adib Rofi'uddin Izza. Beliau yang sekarang mengemban amanah sebagai Ketua YLPI Pondok Buntet Pesantren, juga merupakan Rois Syuriah PBNU termuda dalam usianya yang ke 40 tahun. Ini menunjukkan kapasitas keilmuan dan kualitas pribadi yang menonjol dari diri Kyai Adib. Di usianya yang belum begitu tua, beliau sangat vocal dalam setiap rapat di PBNU. Baik rapat yang membahas masalaha internal keorganisasian, masalah fiqhiyah hingga masalah kebangsaan seperti halnya hubungan NU dengan Partai Politik. Kyai Adib merupakan figur yang penuh idealisme, berani menyampaikan kebenaran dan berani menyatakan sesuatu yang berbeda dengan pandangan orang lain jika menurutnya benar.
Beliau juga merupakan Kyai yang sangat alim dalam bidang fiqih. Hal ini jelas terlihat ketika memberikan penjelasan sebuah kitab fiqih kepada santri. Saya sendiri sempat mengaji kepada beliau beberapa kitab seperti Fathul Wahab (dibidang fiqih), Tafsir Jalalain (dibidang tafsir al-qur'an) dan Al-Hikam (dibidang akhlak tasawuf). Semasa di pesantren hampir tiap malam juga saya mujalasah dengan beliau bersama warga sekitar sambil menikmati teh tawar panas yang dihidangkan dengan gorengan. Satu hal yang saya salut adalah walaupun sedang asyik-asyiknya ngobrol di depan teras rumah beliau, jika waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari beliau pasti masuk kamar beliau untuk menjalankan Qiyamul Lail. Murid kesayangan KH.Maimun Zubair ini sejak usia remaja memang sudah terlihat tingkat keilmuan yang matang dan spiritualitas yang tinggi. Tidak heran makannya jika sekarang beliau menjadi tokoh yang sangat terpandang.
Ada juga seorang Kyai di Buntet walaupun usianya masih paruh baya tapi pembawaannya sangat sepuh. Postur tubuh yang tinggi tegap dan raut wajah yang sangat tampan. Gaya bicara, gerakan tubuh dan senyumannya pasti membuat setiap mata wanita memandang akan terpesona. Beliau adalah KH. Abdul Basith Zen putra KH. Fuad Zen yang terkenal sebagai qori international dari Buntet Pesantren. Konon katanya nama Abdul Basith karena tafa'ulan (duplikasi dengan maksud penghormatan) kepada karib ayahandanya yang seorang qori masyhur dari Timur Tengah bernama Abdul Basith. Beliau merupakan alumni Pesantren Tegal Rejo Jawa Tengah dan kini mengasuh Asrama Santri Al-Falah. Kealiman beliau di bidang ilmu fiqih memposisikan beliau saat ini sebagai Ketua Lajnah Bahtsul Masa'il NU Kabupaten Cirebon. Sebuah lembaga pengambilan keputusan hukum NU yang menaungi ratusan pesantren di Kabupaten Cirebon. Jika kita menyempatkan sekali-kali solat Iedul Fitri atau Iedul Adha di Masjid Jami Buntet. Maka kita akan mendengarkan duet dua ulama muda Buntet. KH. Adib Rofi'uddin selaku khotib karena memang beliau jago pidato sementara KH.Abdul Basith sebagai Imamnya, alunan nada dalam membacakan ayat suci al-Qur'an sangat merdu, syahdu dan begitu menyentuh. Sebuah duet yang sangat serasi, kompak penuh harmoni. Saya selalu berdoa semoga kedua ulama muda Buntet ini senantiasa di berikan kesehatan dan panjang umur.
Ada lagi, satu Kyai muda Buntet yang hampir tiap bulan saya pinjam kitabnya. Beliau memang seorang "kutu kitab". Kyai muda ini punya penyakit aneh, yaitu tidak bisa tidur jika malam hari. Walaupun telah larut malam hingga dini hari mata beliau tidak pernah mau berkompromi untuk tidur. Namun beliau justeru menikmati penyakitnya tersebut, karena dengan demikian setiap malam beliau senantiasa bercengkerama dengan kitab-kitabnya yang berjumlah ratusan judul dan berjilid-jilid. Hampir seluruh ruang perpustakaan pribadinya di penuhi dengan kitab-kitab agama tersebut. Setiap saya sowan ke beliau selalu saja ada di dekat mejanya satu gelas teh, gula batu, sebuah teko tempat menuang teh, dan beberapa bungkus rokok kretek. Terkadang beliau juga punya menu khusus, yaitu rokok "ting we", ngelinting dewe. Perawakannya gemuk, tambun, dan selalu memakai sarung hingga di bawah dada. Kyai muda ini adalah Tubagus Ahmad Rifky Chowas, putra KH. Chowas Nuruddin seorang mantan Ketua Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren yang juga karib KH. Syukron Makmun.
Konon gelar Tubagus yang disandangnya merupakan gelar kehormatan yang di dapatkannya dari Kesultanan Banten. Kang Ntus, panggilan akrabnya, pernah terseleksi sebagai salah satu kandidat Syuriah NU Cirebon yang mendapat pendidikan Ke-Syuriahan dari PBNU di Jakarta. Bagi saya beliau adalah "kitab berjalan". Setiap kali berdiskusi dengan beliau, selalu saja mengalir dari mulut beliau puluhan nukilan kitab yang beliau ingat diluar kepala. Terkadang saya sampai tidak dapat mengingat apa saja kitab yang di nukil dan berapa puluh kitab jumlahnya. Referensialnya sangat kuat dan tajam. Hebatnya lagi beliau juga tidak perla luput meng-up date perkembangan pemikiran Islam modern di tanah air maupun Timur Tengah bahkan pemikiran ke islaman di Barat. Maka jangan heran kalau Kyai muda ini juga hobi mengoleksi buku-buku tulisan intelektual muda NU, seperti Ulil Abshar Abdalla, Masdar Faried Mas'udi, Gunawan Muhammad, Dawam Raharjo hingga pemikiran-pemikiran Gus Dur.
Banyak juga terpampang kitab Muwaffaqat Fi Maqashid al-Syari'ah karya As-Syatibi, Fiqhul Islam Wa Adillatuhu karya Wahbah Zuhaili, karya-karya Sayid Abdurrahman Al-Buthi, An-Naim, Al-Jabiri, Muhammad Arkoun hingga Hassan Hanafi. Beliau senantiasa bertukar kitab dengan kawan-kawannya yang study di Timur Tengah. Tapi yang saya salut beliau tetap konsisten dengan pemikirannya yang khas pesantren. Tidak mau ke kiri-kirian, atau menjadi puritan ke kanan-kananan. Sungguh salut dengan beliau, bukan hanya pandai memetakan dan mengkritisi pemikiran ulama salaf dan intelektual Islam masa kini. Beliau juga telaten mengkoleksi ghara'ibul mas'alah dinniyah (kasus-kasus fiqhiyah yang menyimpang dari mainstream ulama mazhab). Saya yakin suatu saat beliau akan menjadi seorang ulama yang di hebat dan di segani.
Kyai-Kyai muda di atas merupakan produk murni pendidikan salaf pesantren Indonesia. Tapi jangan salah di Buntet Pesantren banyak juga Kyai muda yang merupakan prototype campuran pendidikan salaf di pesantren dan juga lulusan Perguruan Tinggi Islam luar negeri. Sebut saja misalnya KH.Abbas Sobich Mustahdi adalah seorang putra mahkota Buntet Pesantren yang pernah belajar dan menetap lama di Arab Saudi. Putra KH. Mustahdi Abbas ini juga seorang ahli di bidang Qiro'atus Sab'ah. Sebuah disiplin ilmu yang mempelajari metode-metode pembacaan ayat suci al-Qur'an yang di ajarkan Tujuh Imam Besar. Sungguh sangat di sayangkan Allah SWT memanggil beliau dalam usia yang masih paruh baya karena penyakit yang di deritanya.
Di awal tadi saya juga telah menceritakan paling bahwa KH. Aris Ni'matullah putra KH. Izzudin yang lulusan Cairo University. Adik iparnya KH. Wawan Arwani, MA adalah putra KH.Amin Siraj sesepuh pesantren Gedongan Cirebon, ibu beliau Nyai Eni kakak kandung KH. Hasanuddin Kriyani. Beliau merupakan alumni S2 di Chourtum University Sudan dan sekarang sedang menyelesaikan Disertasi S3-nya di Bidang Ilmu Tasawuf di UIN Jakarta. Mantan Ketua Umum PMII Cirebon ini merupakan sosok organisatoris sejati dengan kemampuan diplomasi nomor wahid. Setiap minggu beliau selalu pulang pergi Cirebon - Jakarta karena beliau mempunyai pengajian ekskutif yang di ikuti oleh para pengusaha asal Cirebon di Jakarta. Sebagai Wakil Ketua PCNU Cabang Kabupaten Cirebon, saya dengar beliau juga di gadang-gadang untuk duduk sebagai wakil Bupati Cirebon atas rekomendasi PCNU. Ayah beliau KH. Amin Siroj yang juga paman KH. Said Aqiel Siraj tersebut merupakan tokoh kharismatik pilar ulama di Cirebon bagian timur.
Satu angkatan dengan KH. Aris Ni'matullah, adalah KH. Ade Nasich, Lc. Beliau merupakan alumnus jurusan Ushuluddin Universitas Al-Azhar Syarif Mesir. Ahli di bidang Teologi ini merupakan menantu KH.Abdullah Abbas dan juga merupakan adik kandung KH. Cecep Nidzomuddin. Kang Cecep, sapaan hangat KH. Cecep Nidzomuddin merupakan sosok Kyai muda yang memiliki selera humor tiada duanya. Duta Dakwah Dompet Duafa Republika ini kini selalu berkeliling nusantara untuk menebarkan dakwah islamiyah. Di Buntet Pesantren juga tercatat banyak Kyai Muda yang pernah belajar di Al-Igra University India, beliau adalah KH. Luthfy El-Hakim, MA, KH. Abbas Billy Yachsy, MA, dan KH. Yumni Fathoni Imam, MA. Saya tidak hapal semua dan tidak dapat mengingatnya satu persatu Putra Buntet yang belajar di luar negeri. Yang jelas juga masih banyak Putra Buntet yang hingga saat ini masih berada di luar negeri bahkan juga sudah memiliki dua kewarganegaraan. Ada yang di Inggris, Australi, India, Pakistan ataupun di Timur Tengah sana. Biar kampung kecil, Buntet merupakan "perkampungan internasional".
Inilah fenomena perkampungan internasional bernama Buntet Pesantren yang telah di rintis sejak lama oleh KH. Mustahdi Abbas. Sejak masa-masa awal kemerdekaan beliau telah menjalin kontak diplomasi dengan ulama-ulama Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Sudan, Syiria dan Yaman. Dulu santri Buntet juga banyak sekali yang mendapat beasiswa belajar di Timur Tengah. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Pesantren yang sudah berumur ratusan tahun hingga saat ini masih tetap menunjukkan eksistensinya menjadi khadimul ummah (pelayan umat). Ini tentu juga tidak terlepas dari barokah para pendahulu sebagaimana Mbah Muqoyyim yang sebelum mendirikan pesantren berpuasa dulu selam 12 tahun untuk mendoakan keluarga, santri dan tanah perjuangan Buntet Pesantren.
Di Buntet kini masih berdiri sekitar 40an pondok pesantren, saya tidak hafal namanya satu persatu. Semuanya pondok atau kadang disebut juga asrama memiliki seorang atau beberapa pengasuh yang biasa di pegang oleh seorang Kyai atau Nyai beserta keluarganya. Mempunyai dewan as-satidz (dewan guru), sitem pengajian dirasah dinniyah yang berjenjang. Mulai dari i'dadi (persiapan), sifir (kelas terendah), awaliyah (permulaan), tsanawiyah (pertengahan/lanjutan) dan aliyah (tingkat tinggi). Sayang memang dengan potensi yang ada, sampai sekarang ini setahu saya belum ada sebuah sistem dirasah dinniyah yang di bakukan secara seragam. Sehingga antara satu pondok dengan lainnya cenderung memiliki managemen yang berbeda tergantung managemen yang dipilih sang kyainya. Apalagi kalau saja bisa ada pengajian wajib bersama yang di ikuti oleh seluruh santri Buntet Pesantren. Dimana para Kyai Buntet secara bergiliran sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya. Mungkin jika hal itu dapat di realisasikan maka Buntet dengan sumber daya manusia yang ada akan menjadi pesantren yang mempunyai pendidikan handal dan bermutu.
Waktu saya masih nyantri, akhirnya saya dan sebagian santri punya prinsip jika pendidikan yang terintegrasi belum dapat terealisir maka kamilah yang harus lebih aktif untuk mengikuti pengajian beberapa ulama di Buntet. Seingat saya selain kepada KH. Fakhrudin Mulyono, KH. Hasanuddin Busyrol Karim para ustadz di asrama C Al-Firdaus seperti Kang Omang, Kang Abdurahman, Kang Qohar, Kang Fathuddin dan Kang Ukhi. Saya juga sempat mengaji kepada KH. Adib Rafi'uddin, KH.Ahmad Manshur, KH.Abdul Hamid Anas dan KH. Abdullah Syifa Akyas. Saya juga bersama beberapa alumni dari pesantren Ploso Kediri, Jombang dan alumni Buntet sendiri pernah ngaji khusus kepada KH. Ali Maufur yang juga guru Al-Fiyah Ibnu Malik saya di MANU BPC. Selama bulan puasa hingga bulan Syawal kami mengaji beberapa kitab kepada beliau, termasuk diantaranya Durrotun Nasihin yang berisi mauidlah bekal dakwah serta kitab Fathul Jawwad Fil Ma'fuwwat. Sesuai namanya kitab ini menjelaskan najis-najis yang mendapat ditolelir atau bahkan di anulir dari sisi hukumnya.
Kediaman KH. Ali Maufur berada di seberang sungai yang menjadi yang membatasi wilayah perkampungan Buntet Pesantren. Kata orang sekitar daerah tersebut kalau tidak salah dinamakan Blok Sekrikil. Di cluster Sekrikil tersebut juga terdapat beberapa Pondok Pesantren yang masih dibawah naungan YLPI Buntet Pesantren. Selain pondok Al-Khoir yang di pimpin KH.Ali Maufur terdapat pula pondok Syubaniyah Islamiyah Pimpinan KH. Baedlowi. Ada juga pondok Habil Ilmi pimpinan KH.Habil Ghomam, pondok Ar-Raudlah pimpin KH. Jirjis Umar Yutho, pondok dan Sekolah SLTP Islam peninggalan KH. Aziz, seorang tentara ulama berpangkat kolonel. Di samping kanan jalan utama masuk ke Buntet juga berdiri megah bangunan Akademi Keperawatan Pondok Buntet Pesantren, satu-satunya AKPER di Jawa Barat yang mewajibkan Mahasiswanya mampu menguasai baca tulis al-Qur'an dan Fiqih Dasar.
Semua mahasiswa wajib mengikuti pengajian fiqih terutama fiqhun najasah karena profesi perawat sangat rentan berhubungan dengan hal tersebut. Di sebelah kanannya juga terdapat Gedung MANU Putra BPC yang baru. Harap di ketahui bahwa di Buntet Pesantren mulai dari pendidikan dasar pendidikan formal untuk siswa putra dan siwa putri semuanya di pisahkan. Untuk sekolah formal khusus putra semua dewan gurunya pun semuanya laki-laki. Bisa di bayangkan kalau sudah siang, maka bau keringat siswa putra dikelas mulai menguap. Di tambah lagi bau minyak misik guru-guru kami yang mayoritas juga Kyai. Waduh, sangat menyengat dan membuat pusing kepala. Berbeda dengan sekolah khusus putri yang baik siswi amaupun ustadzahnya semuanya cantik-cantik dan wangi-wangi.
Di samping kiri jalan terlihat bangunan luas bertuliskan Madrasah Aliyah Negeri Buntet Pesantren. Satu-satunya pendidikan lanjutan di Buntet yang berstatus negeri dan menjadi favorit untuk masyarakat sekitar. Sebenarnya Buntet sudah memproyeksikan beberapa Mega Proyek Pendidikan dan Fasilitas Pesantren. Diantaranya adalah peningkatan status Akademi Keperawatan menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, Pembukaan Akademi Kebidanan, Pembangunan Universitas Buntet Pesantren, peningkatan Lembaga Bahasa dan Komputer menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komputer. Disamping itu para pengurus YLPI juga telah memproyeksikan pendirian Rumah Sakit Islam Buntet Pesantren. Semoga semua cita-cita besar ini dapat segera terealisir. Amin.
Di samping bangunan MANU Putra BPC juga terdapat Pesantren Nurul Arwani pimpinan KH.Wawan Arwani bersama irterinya Hajah Nurul. Di seberangnya juga terlihat Pesantren Riyadussolihin pimpinan KH. Djawahir Juha seorang pendidik dan pengarang kitab Nahwu bagi pemula yang laris di kalangan pesantren. Di belakang MANU Putra BPC sendiri terdapat lapangan sepak bola milik Kelurahan Mertapada Kulon. Buntet Pesantren sebenarnya hanyalah sebuah Dusun atau Dukuh yang secara administratif masuk ke Kelurahan Mertapada Kulon Kecamatan Astana Japura. Lapangan sepak bola tersebut juga sering kali di gunakan sebagai Hellipad jika ada pejabat yang berkunjung ke Buntet dengan menggunakan Hellicopter.
Jika bulan Agustus tiba, lapangan tersebut sering di gunakan sebagai arena turnamen sepakbola yang melibatkan seluruh desa di Kecamatan Astana Japura. Para santri dan kyai biasanya tumplek blek menyaksikan pertandingan sepak bola di lapangan tersebut. Kesebelasan Buntet biasanya di perkuat oleh Kang Farid Cs. Kang Farid yang dilapangan sering di panggil "Panji" karena memang ketampanan dan bodynya mirip Primus. Aktor pemain sinetron jagoan anak-anak waktu itu yang menampilkan tokoh jagoan bernama Panji. Beliau adalah putra tertua dari KH. Nasirudin Zahid seorang ulama kharismatik yang pengajiaannya senantiasa di ikuti oleh mayoritas para putra Kyai Buntet. Bukan hanya kang Farid, tapi adik beliau Kang Luthfi dan Kang Zidni juga selalu memperkuat team kesebelasan Buntet. Saya tidak tahu apakah sekarang Kang Farid masih bisa bermain bola atau tidak?. Karena katanya beliau sekarang sedang laris manis mendapat undangan pengajian agama dari berbagai daerah sekitar. Mungkin kalo dulu penampilan Kang Farid mirip Panji mungkin sekarang lebih mirip Uje, bukan ustadz Jeje seksi sibuk di Buntet, tapi ustadz Jefry yang juga selebritis itu.
Inilah tokoh-tokoh muda Buntet dengan segara aktifitasnya. Ada yang ngajar ngaji saja di pesantren, ada yang mengajar di sekolah formal, ada yang menjadi dosen, ada yang menjadi pengurus organisasi sosial, menjadi birokrat, berdagang, kerja sektor informal bahkan mungkin ada juga yang jadi paranormal. Segudang cerita yang tidak akan pernah habis, dari hari ke hari dari generasi ke generasi. Buntet selalu saja mempunyai momentum untuk menentukan sikap sesuai garis perjuangannya. Sebuah dinasti pesantren keturunan ningrat dari Keraton Cirebon yang memiliki garis silsilah kepada Sunan Gunung Jati. Sebagai pesantren yang banyak di huni tokoh kaliber nasional, Buntet mau tidak mau juga banyak sekali terlibat dalam pentas perpolitikan nasional. Fatsoen politik yang menjunjung tinggi etika keagamaan, menjaga tradisi luhur kepesantrenan serta nilai-nilai kultural.
Kancah Politik
Saya kira yang paling faham tentang pentas politik pesantren di kancah nasional saat ini adalah KH.Anas Arsyad. Seorang tokoh muda Buntet Pesantren yang mempunyai jaringan luas, visi ke depan, diplomatik serta mempunyai gaya berpidato yang khas. Kepandaian dalam berpidatonya sungguh luar biasa, dengan pilihan kata yang padat penuh arti, beliau sanggup menggugah motivasi ataupun menyentuh perasaan terdalam pendengarnya. Sebagai mantan dosen civic education beliau juga sangat memahami tentang ilmu politik dan tata Negara. Beliaulah konsolidator pesantren secup nasional dan sangat dicintai para ulama. Setiap kali ada pertemuan Kyai Khos di Indonesia, selalu saja KH.Anas Arsyad konsolidatornya.
Beliau laksana Kyai As'ad Syamsul Arifin muda yang sering menjadi penyambung lidah para Kyai Khos. Bukan hanya dicintai oleh para Kyai Khos, para intelektual muda pun seperti halnya Ahmad Denni Daruri (Executive Director Banking Crisis Centre) juga sangat dekat dengan beliau. Bahkan mungkin sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri bagi Bung Deni yang tulisannya setiap minggu muncul di kolom Opini Media Indonesia. Kang Anas, begitu koleganya sering menyapa adalah sosok yang mampu membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Tak heran jika kolega beliau begitu banyak mulai dari para pengasuh pesantren, pejabat pusat, pengusaha kelas nasional, aktivis pergerakan bahkan hingga beberapa selebitris. Sekarang ini Kang Anas juga mengadakan pengajian rutin di salah satu kediamaannya di Jakarta untuk segenap keluarga besar, santri dan alumni Buntet Pesantren di Jakarta. Kang Anas adalah kader pemimpin masa depan dari pesantren yang patut di banggakan.
Begitu banyak kader Buntet Pesantren yang berkiprah di luar, tapi banyak juga para Kyai yang istiqomah menjadi benteng pendidikan keagamaan di pesantren Buntet. Sebut saja misalnya KH. Jaelani Imam pengasuh pondok Al-Hidayah, KH. Amiruddin pengasuh pondok Hidayatul Mubtadiin, KH. Majduddin Busyrol Karim pengasuh pondok Al-Hikmah I, KH.Salman Al-Farisi pengasuh pondok Al-Hikmah II, KH. Anis Manshur pengasuh pondok Nadwatul Banin, KH. Jachus Santoso pengasuh pondok Al-Anwar, KH. Yusuf Ma'mun pengasuh pondok Al-Makmun, , KH. Turmudzi Nur pengasuh pondok An-Nur, KH. Immaduddin pengasuh pondok Darul Amanah, KH. Rofi'i Kholil pengasuh pondok Nurussobah hingga KH. Ahmad Tijani Anas pengasuh pesantren Darul Hijroh I. Ada juga pondok yang sepeninggal Kyai pendirinya akhirnya di teruskan oleh isteri, putera atau menantu para Kyai tersebut. Saya tentu tidak dapat menyebutnya satu persatu karena jumlahnya mencapai puluhun.
Termasuk dalam naungun YLPI Buntet Pesantren adalah pesantren-pesantren yang berada pada cluster sebrang sungai sisi kiri yang di sebut Blok Buntet Sebrang. Buntet Pesantren secara geografis memang di kelilingi oleh dua sungai besar sehingga daerah tersebut di namakan Buntet yang artinya buntu. Konon masyarakat sekitar mempunyai kepercayaan bahwa santri yang berasal dari Jawa Tengah di larang keras mandi di sungai tersebut. Memang sudah banyak kejadian santri Jawa Tengah yang nekat mandi di sungai tersebut di temukan dalam keadaan pingsan atau bahkan tewas secara tidak wajar. Padahal arus sungainya relatif kecil, sungainya pun juga dangkal. Ini merupakan salah satu cerita misteri yang ada, masih banyak lagi cerita mistik yang lain yang tidak bisa diceriterakan disini.
Di Blok Buntet Sebrang tersebut juga terdapat beberapa pondok seperti pondok Al-Hikmah III yang di asuh KH. Ahmad Mursyidin dan pondok Al-Muafi yang diasuh KH.Abdul Matin. Saya jadi ingat dulu saya pernah belajar tilawatul Qur'an kepada KH.Abdul Matin di pondok Al-Muafi tersebut. Namun baru dua kali pertemuan saya sudah menyerah angkat tangan karena saya sadar diri. Suara saya yang bariton, nafas pendek dan karakter suara yang terlalu banyak fibrasi tidak cocok untuk menjadi seorang Qori. Walaupun program gurah tenggorakan dan berpantang makan gorengan, tidak berubah juga suara saya menjadi baik. Mungkin saya lebih tepat memimpin tahlil saja yang bacaannya pendek-pendek dari pada berlatih tilawah yang harus bisa bernafas panjang.
Di Blok Buntet Sebrang ini pulalah saya bersama kawan-kawan santri lain selalu menghabiskan sore hari. Jika tidak ada jadwal mengaji, kami selalu bermain sepak bola disitu. Lapangannya adalah kebun belakang rumah penduduk yang ditelah tumbuh beberapa pohon asem. Tentu tidak ada rumput hijaunya sama sekali, apalagi garis lapangan. Bola akan di anggap out dari lapangan apabila telah melewati pekarangan sebelah yang sudah di buat fondasi karena akan segera di bangun rumah. Atau bola telah melewati jalan desa yang banyak dilalui motor atau kalau tidak berarti bola telah meluncur terbawa aliran sungai. Walaupun di samping kiri kanan terdapat rumah penduduk tapi tendangan jarak jauh yang mengenai rumah tidak berbahaya. Bukan karena apa-apa, tapi karena bola yang kami gunakan adalah bola plastik. Bola tersebut hanya dapat bertahan untuk lima sampai sepuluh kali permainan. Setiap terkena runcing batu atau ketika terjadi benturan tendangan antar pemain bola akan pecah atau sobek. Gawangnya cukup di buat dengan menancapkan dua galah bambu yang biasa digunakan untuk kegiatan ekstrakulikuler pramuka di sekolah.
Karena badan saya gemuk saya selalu mendapat posisi untuk memperkuat lini belakang pertahanan. Mungkin juga kalau jadi penyerang saya kurang gesit berlari. Kami biasanya lebih senang jika hujan turun, karena permainan akan lebih mengasyikkan. Yang paling lucu dari permainan ini adalah kostum kami. Biasanya para santri bermain bola dengan memakai kaos dan sarung. Tentu kami juga memakai celana pendek atau paling tidak celana dalam. Tapi terkadang ada juga yang nekat tidak memakai celana sama sekali. Hanya memakai sarung dan kaos oblong saja. Celakanya, pas terpeleset jatuh di tidak sadar kalau sarungnya robek sampai ke paha. Walhasil. "tongkat polisi" si santri tersebut tak ayal menjadi tontonan lucu oleh pemain lainnya. Tapi mungkin inilah kebahagiaan hidup santri yang tidak dapat di beli dengan harta atau kenikmatan lainnya.
Pikiran saya mulai membayang menerawang kemana-mana mengingat masa-masa indah nyantri di Buntet Pesantren. Saya jadi ingat kawan-kawan "seperjuangan" saya. Salah satunya adalah Mas Sulam santri KH.Ahmad Tijani Anas yang berasal dari Purwokerto. Dulu, setelah nyantri dari Buntet meneruskan ke Pesantren Sarang Rembang dan akhirnya dia kembali lagi ke Buntet. Kang Yusuf dan Kang Ipin keponakan KH. Yusuf Makmun yang saat itu juga mengajar di beberapa pondok. Kang Azizi putra Uwa Abdul Bari yang sering di panggil oleh Kang Farid dengan sebutan "3 X 4". Di panggil demikian karena memang postur tubuhnya sangat pendek seperti past foto yang sering dia cetak. Yah..kebetulan Kang Azizi memang seorang fotografer senior Buntet yang studionya cukup dengan menempel kain biru polos di dalam ruang tamu rumahnya.
Saya juga ingat Busyaeri rekan seperjuangan saya yang pernah punya cita-cita ingin menjadi "Kepalanya Kapolri". Dia sekarang sudah diangkat menjadi PNS di Pengadilan Agama Kota Cirebon. Bulan lalu saya ketemu dia, katanya sekarang tujuan hidupnya tinggal satu "ingin secepatnya menikahi pacarnya anak Indramayu yang katanya secantik dewi persik". Anak-anak Garesado (Gabungan Remaja Sawo Doyong). Nama yang aneh?!. Zaki Mubarok "Cecep" tukang komputer, Tamar, Amar Jhon, Amar Congkrek, Awang, Ang Say, Dawud, Mas Hadi instruktur fitness, Wawan gendut, Mang Bawon pemilik caffe dengan menu special "rumbah so'un".
Ada nama klub sepak bola di Buntet yang bernama PS Tiga Roda. Tentu bukan karena sponsor utamanya semen tiga roda tetapi karena pemainnya adalah tukang-tukang becak. Klub ini selalu menjadi primadona ketika ada turnamen "kambing cup" yang biasa di gelar di Stadiun Utama Buntet, "Stadiun Kebon Ledeng". Lapangannya sangat aneh karena bentuknya mirip wajan dengan tingkat kemiringan 45 derajat. Ada juga yang dinamakan masyarakat T-KAD, kepanjangannya adalah tuan kandang. Kelompok ini merupakan cluster masyarakat Buntet yang berada di sisi rel kereta api yang melintasi depan pesantren. Pimpinannya adalah Man Rochim yang lebih biasa di panggil Man O'im. Seorang senior driver di Buntet yang kini juga berdagang peralatan elektronik dan listrik.
Mas Waros serta Kuswito tenaga administrasi MTs teladan di Buntet. Terlalu banyak kenangan dengan mereka terutama langganan utang saya untuk biaya transport kuliah. Ada juga rekan sesama khodam di pesantren bernama Ahmad Syaefuddin, biasa kami panggil U'u. Anak yang paling jarang pakai sandal ini sekarang sudah hebat. Setelah mondok di Buntet dia bercita-cita ingin kuliah di Cirebon. Akhirnya dengan bekal suara merdunya ketika mengumandangkan adzan dia melamar jadi pengurus masjid di bilangan Perumnas Cirebon. Dari hasil gaji mengurus masjid, memberi private pengajian dan mengajar al-qur'an di masjid. Dia sekarang sudah semester akhir kuliah di STAIN Cirebon. Perjuangan yang sangat mulia dan patut di teladani.
Saya juga teringat putra-putri Kyai yang semuanya baik, ganteng-ganteng dan cuantik-cuantik. Persis seperti bintang-bintang film Bollywood. Mereka inilah yang nantinya kan menjadi pemimpin-peminpin Buntet di masa yang akan datang. Tidak terasa ternyata saya dari tadi masih duduk termenung di beranda masjid setelah melaksanakan solat Subuh berjamaah yang di imami oleh KH. Hasannudin Kriyani.
Seorang santri menghampiri saya dan menyampaikan bahwa saya di tunggu sarapan oleh Kyai saya, KH.Hasannudin Busyrol Karim di kediamannya. Aha!!..menu kesukaan saya telah tersedia di meja tamu Kyai, serabi hangat disandingkan dengan tempe goreng. Lidah saya sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Ditemani segelas teh tawar hangat saya pun mulai menyantap menu istimewa khas "restoran itali" tersebut.
Sambil ngobrol ngalor ngidul saya dan Kyai melahap serabi hingga hampir habis. Tak terasa matahari mulai menghangatkan bumi para santri tersebut, dan di ujung sana sudah mulai terlihat berjejer food court menjajakan makanan sarapan untuk para santri. Paling ujung kanan terlihat Man Asep dengan makanan ketoprak khas Cirebon, Man Ilyas dengan Bajigur dan ketela rebusnya, Man Munir dengan bubur ayamnya. Ada juga nasi ponggol yang di jajakan Bi Pat dang sang suami tercinta, Man Aom dengan dagangan macam-macam di gerobak mulai dari permen, kerupuk, teh botol hingga rokok. Terlihat juga Man Yadi mulai memarkin gerobak es campurnya yang senantiasa laris manis di borong para santri. Tidak perduli siang malam, cuaca panas ataupun hujan sekalipun. Selalu saja dagangan es campurnya habis tak tersisa. Buntet Pesantren memang penuh keberkahan begitu Man Yadi sering menasihati saya.
Entah sudah berapa generasi berganti, entah sudah berapa juta alumni yang pernah nyantri, Waktu serasa telah terhenti, tinggallah cahaya ilmu yang terus menyinari. Buntet Pesantren tetap ada penuh dedikasi. Berapa banyak Ulama, Pemimpin, Intelektual, Pengusaha dan Birokrat yang telah di lahirkan dari bumi perjuangan tersebut. Bakti persada para pahlawan tanpa tanda jasa, telah paripurna menasbihkan asma-Nya. Puspita Warni Ma'hadi Buntet As-Syirboni.
Ketropak Islami tersebut nantinya akan di pentaskan dalam rangka memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Secangkir teh dituangkan dan Abah Habib, -begitu kami memanggil beliau- mulai memberikan konsultasi dan nasihat kepada setiap tamu yang hadir. Lebih kurang 2 jam saya sowan di kediaman Abah Habib dan mendapatkan amanat sebuah "ijazah" tentang tata kerama melakukan istikharah dengan Al-Qur'an, saya pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Saya sampaikan ke beliau bahwa saya akan mampir ke Buntet Pesantren, beliaupun menitipkan salam untuk segenap ahli (keluarga besar) Buntet.
Mobil saya melaju kencang, rupanya sopir saya ingin segera sampai Buntet dan segera bisa istirahat. Pukul 22.00 malam saya sampai di Buntet Pesantren. Saya langsung menuju Asrama C Al-Firdaus salah satu pondok di Buntet dimana KH.Hasanuddin Busyrol Karim mengasuh para santrinya. Dulu disinilah saya mulai mengenal al-Qur'an dan ilmu agama lainnya.
Setelah bersalaman dan bincang-bincang sebentar dengan sang Kyai, saya pamit untuk ke kamar santri tempat saya dulu menikmati tikar sebagai alas tidur dan lipatan sajadah sebagai bantalnya. Tapi Kyai melarang, katanya ada kamar kosong di lantai dua rumahnya. Tadinya kamar tersebut milik putrinya Dede Siti Fatimatuz Zahra yang sekarang sedang nyantri di PP Ploso Kediri Jawa Timur. Beginilah memang cara keluarga Buntet menghormati tamu maupun alumninya. Dengan pintu yang selalu terbuka selam 24 jam dan sambutan hangat bersahabat. KH. Hasanuddin Busyrol Karim merupakan putra ketiga dari KH. Busyrol Karim bin KH.Hamim. Kakak kandung beliau adalah KH. Fakhruddin Mulyono dan KH. Majduddin.
Bagi kami masyarakat Bawang Kabupaten Batang tentu sudah sangat familier dengan Pondok Buntet Pesantren. Dulu yang pertama kali melakukan syi'ar keislaman di Bawang dan membuat sebuah rekronstruksi sosial menjadikan masyarakat yang agamis, masyarakat santri adalah ulama Buntet. Sekitar dekade 50-an, melalui undangan santri pertama Buntet asal daerah kami KH. Maqsudi, para ulama Buntet melakukan dakwah Islamiyah di kampung kami. Mulai dari KH.Mustahdi Abbas, KH. Mustamid Abbas, KH.Hasyim, KH.Munawwar, KH. Muafi hingga KH.Busyrol Karim semuanya pernah menetap dan berdakwah di kampung kami. Di rumah kakek saya sendiri, keluarga KH.Busyrol Karim menetap dan berdakwah selama lebih kurang 5 tahunan. Dulu di desa saya belum ada Madrasah Dinniyah, maka KH.Fakhruddin Mulyono putra tertua KH.Busyrol Karim tersebutlah yang mendirikannya dengan nama Madrasah Dinniyah Bustanul Khairat.
Para ulama Buntet juga secara bergiliran memberikan pengajian untuk masyarakat sekecamatan Bawang. Santri-santri Buntet juga "di impor" untuk sekedar mengajar membaca al-Qur'an di masjid-masjid dan melantunkan tadarrus al-Qur'an ketika bulan Ramadlan tiba. Terjalinlah ikatan batin yang hangat dan sikap saling menghormati begitu harmonis antara ulama Buntet Pesantren dengan masyarakat setempat. Dari sini, kecintaan dan kemauan masyarakat untuk belajar agama di pesantren tumbuh dan mulailah masyarakat mengirimkan putra-putrinya ke pondok-pondok pesantren dipulau Jawa. Kini di Kecamatan Bawang sudah berdiri puluhan pesantren dan dihuni ratusan mungkin ribuan santri dari berbagai daerah. Sebuah perjuangan dakwah dalam rangka transformasi sosial yang sukses. Gambaran diatas membuktikan bahwa pesantren mampu melahirkan Social Engineer yang handal.
Malam itu saya begadang di rumah Kang Imat, panggilan akrab KH. Aris Ni'matullah, MAF. Rumahnya di ujung barat kampung Buntet, tepatnya di daerah ledeng, sentra irigasi pertanian di Buntet namun kini airnya sudah mengering. Kang Imat adalah seorang Kyai muda berbakat dan mempunyai jiwa kepemimpinan tinggi. Sejak kuliah di Cairo University Mesir beliau sudah kondang sebagai ketua paguyuban santri Jawa Barat di Mesir disamping juga sebagai aktivis KMNU pada masanya. Beliau menempati sebuah rumah baru dengan arsitektur Jawa kuno yang di sebut "rumah gebyok". Sedang asyik menikmati teh dan ngobrol ngalor-ngidul, tiba tiba seorang santri beliau bernama Khotib menawarkan saya makan dengan menu yang sangat istimewa, " Mas Zulfa, kersa dahar manuk puyuh mboten? (Mas Zulfa mau makan daging burung puyuh tidak?). Saya tidak langsung menjawab tapi justeru tambah heran. Jam 02.00 dini hari saya ditawari makan, walaupun pola makan seperti ini menjadi sesuatu yang biasa kalo saya masih nyantri di Buntet. Tapi setelah beberapa tahun di Jakarta mungkin jadwal makan saya mulai sedikit teratur. Yang lebih membuat saya terkejut lagi adalah menu yang di tawarkan yakni daging burung puyuh. Darimana dapatnya?!!.
Setelah saya lihat di dapur saya lebih tercengang lagi. Dua orang santri dan satu orang asli Buntet bernama mas Baki sedang membersihkan bulu-bulu burung puyuh dalam jumlah yang sangat banyak. Saya tanya "berapa jumlahnya mas Khotib?". "Enam puluh dua ekor Mas" jawabnya. "Hah!", angka yang fantastis untuk sebuah "perburuan malam". Kata Kang Imat tadi mas Baki dan Mas Khotib yang mencari burung puyuh sampai ke sawah-sawah di sekitar Gemulung, sebuah desa di sebelah selatan Buntet. Itulah hobi mas Khotib selain memelihara kambing sang Kyai dan menanam pohon singkong. Dia adalah seorang santri dari Cilacap Jawa Tengah yang sangat hormat terhadap sang guru. Keluarganya turun temurun merupakan santri di Buntet Pesantren. Dia sekarang hampir tiga tahun nyantri di Buntet dan belum pernah pulang ke kampung halamannya. Bagi santri Buntet ada sebuah keyakinan. Barang siapa yang mondok di Buntet selama tiga tahun dan tidak pernah pulang ke kampung halaman maka insyaAllah akan "futuh" (terbukanya pintu hati dalam menerima ilmu). Selanjutnya sang santri akan mendapatkan berkah ilmu yang manfaat.
Bagi orang yang belum pernah ke Buntet mungkin bingung jam 02.00 dini hari para Kyai dan santri sedang sibuk mempersiapkan makan. Saya sendiri bingung kalo harus memberi nama apa makan dini hari seperti itu. Kecuali untuk sahur bagi orang yang berpuasa. Padahal kami semua tidak hendak berpuasa. Mungkin kalo orang bule menyebut breakfast campur lunch menjadi brunch, nah ini dinner campur breakfast jadi apa yah?. Kalau boleh saya buat nama baru mungkin lebih baik di sebut "dinfast", dinner campur breakfast, yah kalau boleh saya sebut begitu, orang Buntet biasa menyantap "dinfast" dengan menu yang harus di masak terlebih dahulu. Ini sedikit gambaran tentang Buntet. Sebuah perkampungan kecil dimana medan waktu berhenti, atau terkadang waktu berputar lebih dari 24 jam sehari. Datanglah ke Buntet, maka anda akan merasakan "Waktu Yang Berhenti".
Jam 04.00 dini hari dari jauh terdengar sayup-sayup Man Mursyid sudah mulai mengumandangkan ayat suci al-qur'an dari corong speaker Masjid Jami Buntet dengan gaya tilawahnya yang khas. Saya pun pamit kepada Kang Imat kembali ke kediaman KH.Hasan Busyrol Karim yang berada tepat di depan Masjid untuk berganti baju dan melaksanakan solat berjamaah di Masjid. Jalan kaki dari rumah Kang Imat ke Masjid mungkin sekitar 500 meter atau 10 menit dengan berjalan kaki. Di perjalanan saya melawati kediaman KH. Ahmad Manshur yang biasa disapa dengan panggilan Kang Mamad. Rupanya beliau juga sudah siap menuju masjid, karena memang Kyai yang satu ini yang senantiasa istiqomah solat berjamaah di Masjid. Kang Mamad juga merupakan salah satu imam Masjid Buntet. Semasa sekolah di Madrasah Aliyah NU Buntet saya belajar kepada beliau Ilmu Ushul Fiqih dengan kitab sandingan Qowaid al-Fiqhiyah dan Al-Asyabah Wan Nadho'ir. Kyai yang satu ini terkenal nyentrik dan sangat fanatik terhadap tradisionalitasnya disamping beliau juga jawara-nya Bahtsul Masa'il Diniyah.
Saya ingat dulu saya ngaji khusus sendiri ke beliau setiap malam pukul 23.30 malam hingga pukul 01.00 dini hari. Terkadang saya juga membangunkan beliau jika beliau sudah tertidur terlebih dahulu sebelum saya datang di kediaman. Di hadapan beliau saya di beri pengajian dengan "sistem sorogan" yakni sebuah motode pengajaran dimana seorang santri diwajibkan untuk membaca sendiri kitab klasik tanpa harakat beserta maknanya. Selanjutnya sang Kyai menjelaskan pengertian yang di maksud oleh pengarang kitab beserta contoh-contoh kasus yang terjadi dalam masyarakat secara aktual. Selanjutnya sang Kyai membuka ruang untuk berdiskusi atau sekedar tanya jawab. Saya sungguh sangat mengagumi metode ini, sebuah metode yang sangat partisipatif layaknya pengajaran di kampus-kampus perguruan tinggi. Karena mungkin sudah malam saya terkadang kelelahan terlelap sebentar dan bangun lagi ketika Kang Mamad memberi penjelasan Kitab Fathul Mu'in yang sebelumnya saya baca beserta artinya dulu.
Maklum juga, sejak pagi saya sudah mulai aktifitas berat hingga malam hari. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah saya selalu belanja di pasar Mertapada untuk makan siang santri lain dan mengepel kediaman Kyai. Latar belakang keluarga saya yang kurang mampu sehingga saya merupakan salah satu dari ratusan santri Buntet yang "mondok gratis". Termasuk sekolah pun saya selalu mendapat subsidi dari pemerintah sehingga saya merupakan siswa langganan bea siswa. Di pesantren, santri model saya ini di sebut Khodam Kyai yang artinya "pembantu Kyai". Tapi dengan menjadi pembantu Kyai saya merasa lebih dekat kepada Kyai serta termotivasi untuk senantiasa berbuat baik agar mendapat ridlo dan barokah dari Kyai. Tapi malangnya terkadang para santri melampiaskan kelelahannya dengan tidur bukan pada jamnya. Memang dasar pemalas!.Saking malasnya saya pernah di jewer oleh KH. Salim Effendy dan disuruh untuk menghitung jumlah langkah kaki dari pondok ke sekolah Madrasah Aliyah yang jaraknya cuma 50 meter, he.he.. sebuah pengalaman yang memalukan.
Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Buntet Pesantren Cirebon disingkat MANU BPC merupakan salah satu sekolah formal setingkat SLTA yang ada di Buntet Pesantren. Pada saat itu kepala sekolah MANU BPC adalah KH.Hasanuddin Kriyani seorang tokoh di Buntet Pesantren yang sudah mempunyai jiwa kepemimpinan sejak muda. Beliau sekarang menjabat Rois Suriyah PCNU Kabupaten Cirebon. KH.Hasanuddin Kriyani merupakan sosok yang sangat tegas, disiplin serta visioner. Beliau merupakan sosok ideal untuk sekolah formal di lingkungan pondok pesantren. Yang paling di ingat oleh para santri siswa MANU adalah ketika beliau menyampaikan amanat Pembina Upacara pada setiap upacara bendera hari Sabtu. Maklum di Buntet libur sekolah dan pengajian semuanya hari Jum'at, jadi upacara Bendera diadakan tiap hari Sabtu. Suara beliau yang lantang, bergetar dan terkadang mengelegar. Nasihatnya begitu jelas dan selalu terngiang-ngiang di kepala semua siswa. Sebagai Kepala Sekolah beliau sangat di segani oleh segenap Dewan Guru, bahkan banyak sekali guru dari luar yang ikut mengajar di MANU BPC juga merasa menjadi santri beliau dan berharap adanya barokah dari ilmu beliau. Kini beliau menjadi salah satu Kyai sepuh di Cirebon yang banyak dimintai masukan dan pendapat dari berbagai lapisan masyarakat.
Selain ngaji kepada KH.Ahmad Manshur, saya tentu ngaji di Asrama C Al-Firdaus. Saya ingat saya belajar kepada Ustadz Qomarul Huda mulai dari Ta'limu Muta'allim (kitab induk berisi etika dan metodologi belajar), Safinatun Najah kitab fiqih dasar di pesantren, Innarotud Duja sebuah kitab penjelasan dari kitab Safinatun Najah dalam bentuk nadzam (syair) yang di beri penjelasan dalam paparan deskriftif (nasyar). Selain kedua kitab tersebut saya juga mengaji kitab nahwu-shorof (Arabic Grammar) Jurumiyah, Nadzam Amrithi, Amtsilatut Tasrifiyah,Nadzam Maqsud. Beberapa kitab fiqih seperti Minhajul Qowwim, Nihayatuz Zain, Bajuri dan lainnya yang tidak saya ingat lagi. Kang Omang panggilan guru saya ini unik, beliau selalu mewajibkan para santri yang mengaji untuk membuat daftar pertanyaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dikaji. Santri tidak dapat bertanya malah di beri sangsi untuk menghafal beberapa pelajaran yang akan datang. Satu hal yang saya ingat, Kang Omang merupakan ustadz yang paling serius, mendalam, teliti dan tuntas kalau mengaji fiqih haidz (menstruasi). Saya tidak tahu juga kenapa Kang Omang sangat bersemangat kalau sedang mengajar fiqih haidz?!. Mungkin kalau ada gelar Doktor di bidang haidz, Kang Omang merupakan salah satu kandidatnya.
Di Asrama C al-Firdaus pula saya sempat belajar dengan Ustadz Fathuddin yang spesialis ilmu Shorof (salah satu cabang Arabic Grammar ), kepada Ustadz Abdurahman putra KH. Muqoyyim Bakri yang semasa hayatnya menjadi Imam Besar di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan Cirebon. Ustadz Abdurahman yang pernah nyantri di Kaliwungu ini mengajarkan Kitab Fiqih Riyadul Badi'ah dengan sangat tenang dan gamblang. Yang paling mengesankan bagi saya adalah pengalaman mengaji Alfiyah Ibnu Malik sebuah kitab referensi utama ilmu nahwu yang kebetulan di ajarkan oleh ustadz Subhi Muta'ad Ilyas. Kang Ukhi panggilan akrab beliau merupakan adik kandung KH. Thobroni Muta'ad Ilyas guru fiqih saya di Madrasah Aliyah dimana Kitab Kifayatul Akhyar merupakan referensi wajib bagi para siswa. KH. Thobroni juga merupakan guru Nahwu yang sangat dicintai oleh para santri bahkan juga putra-putri Kyai Buntet Pesantren sendiri. Beliau telah membuat sebuah Kitab Kompilasi (diktat) di bidang ilmu nahwu sendiri secara singkat dan praktis. Hebatnya diktat tersebut bisa dipelajari oleh semua tingkatan baik mulai kelas basic, elementary maupun advance.
Ustadz Subhi Muta'ad merupakan jebolan Pesantren Sarang Rembang yang sejak kecil belajarnya via jalur madrasah. Sehingga jika waktunya Kang Ukhi menerangkan dengan menggunakan bahasa Indonesia maka akan sangat tidak enak di dengar di telinga. Gaya bahasa melayunya sering tidak tertata rapi, lucu dan aneh. Bagi kami para santri di Asrama C al-Firdaus saat itu selalu usul agar di terangkan menggunakan bahasa Jawa saja atau menggurakan bahasa Arab Fushah (konvensional) sekalian. Tapi yang kami salut adalah tingkat pemahaman beliau terhadap materi yang disampaikan dan jawaban setiap pertanyaan santri yang selalu jelas dan lengkap. Beliau merupakan guru ngaji kami yang tidak pernah absen dalam mengajar. Bahkan, dalam cuaca hujan pun beliau selalu datang mengajar dengan berjalan kaki dan membawa payung sementara kitab beliau masukkan kedalam baju beliau. Sebuah sikap yang sangat bersahaja, ikhlas dan sangat mengagumkan bagi kami santri yang bisa belajar pada beliau. Jika ingat beliau saya bukan hanya kagum tapi juga sering menitikkan air mata mengingat mutiara keikhlasan di akhir jaman ini. Kang Ukhi jugalah yang senantiasa memberi nasihat bahwa para santri jika ingin ilmunya bermanfaat harus keluar (bahasa santrinya; boyong) dari Buntet harus dalam keadaan paling diridlai. Karena di situlah berkah dan doa para guru akan senantiasa mengalir. Beruntung saya mempunyai guru seperti beliau.
Bagi saya pribadi, Kyai Buntet yang paling berpengaruh dalam membentuk pribadi saya adalah KH. Fakhruddin Mulyono dan KH. Hasanuddin Busyrol Karim. Kakak beradik yang juga mempunyai isteri kakak beradik tersebut bukan hanya guru bagi penulis tapi juga sudah merupakan orangtua sendiri. Bimbingan, nasihat, suri tauladan dan ilmu yang tidak ternilai selalu di ajarkan oleh keduanya. KH. Fakhruddin Mulyono kalau boleh saya gambarkan disini beliau adalah seorang Kyai dan juga seorang ahli Hikmah (supranatural). Sejak pertama penulis masuk Pondok Buntet Pesantren tahun 1997 penulis senantiasa melihat beliau istiqamah menjadi aurad lailiyahnya di Masjid Jami Buntet Pesantren. Mulai pukul 12.30 malam hingga subuh tiba beliau tidak pernah bergeser dari tempat duduk beliau di depan jam dinding masjid bertuliskan "M Nitisemino" sambil terus memutarkan butiran tasbihnya. Setelah mengimami solat subuh beliau selalu berkumpul di kediamannya dengan orang-orang tua Buntet yang juga istiqamah solat subuh berjamaah di masjid. Hal tersebut dijalankan beliau hingga bertahun-tahun hingga akhir hayat beliau.
Saya merupakan saksi hidup atas karomah yang beliau miliki. Mulai dari orang yang sakit medis, psikis, orang yang kesusahan terkena pailit, hingga yang mau maju Pilkada banyak sekali yang datang ke beliau. Pernah suatu ketika seorang Kyai dari Pandeglang Banten datang dan memohon agar dibantu permasalahannya. Ternyata sang Kyai dari Pandeglang tersebut mempunyai khodam jin muslim laki-laki dan sudah lebih dari satu minggu mengamuk terus karena minta di nikahkan dengan jin muslimah. Akhirnya KH. Fakhruddin menyanggupi untuk segera menyiapkan upacara pernikahan di alam jin tersebut. Bisa di bayangkan seperti apa resepsinya yah, pastinya sangat meriah lah. Seingat saya ini kejadian tahun 2000 semasa saya senantiasa mendampingi beliau. Banyak lagi hal-hal mistis, ghaib dan daya linuwih beliau yang tidak bisa diceritakan satu persatu disini.
Sementara KH.Hasanuddin Busyrol Karim adalah seorang pribadi yang sangat bersahaja. Beliau senantiasa mengajaran Kitab Jawahirul Kalamiyah sebuah kitab di bidang tauhid (teologi) dan Taisirul Kholaq sebuah kitab berisi tata kerama dan etika dalam kehidupan sehari-hari. KH.Hasunuddin Busyrol Karim adalah pribadi yang lebih banyak merenung dan berusaha, bicaranya sangat sedikit hanya seperlunya. Tapi wawasan beliau yang luas membuat beliau banyak bergaul dengan berbagai kalangan. Kepemimpinan beliau dalam Koperasi Pondok Buntet Pesantren juga memposisikan beliau banya bergaul dengan kalangan dunia usaha. Sifat wela asihnya kepada santri membuat setiap nasihatnya pasti akan senantiasa diingat dan dicamkan dalam hati. Gaya bicaranya dalam, metaforis, jarang sekali terlihat marah dan senantiasa melakukan zikir malam di kediaman beliau. Banyak beberapa pengusaha non muslim yang beguru ataupun berkawan dengan beliau yang akhirnya membaca syahadat, mengesakan Allah Ta'ala dan mengakui Muhammad SAW adalah utusannya.
Kedua ulama inilah yang selalu menggembleng saya untuk terus mutholaah (belajar) dan memelihara himmah (cita) setinggi mungkin. KH. Fakhruddin paling sering memerintahkan saya puasa untuk melatih mental spiritual. Mulai dari puasa "ngasrep" atau orang pesantren menyebutnya puasa tarak. Di sebut tarak (tarku ma lahu ruh) karena dalam puasa tersebut kita tidak di perkenankan memakan segala sesuatu yang bernyawa. Kadang juga saya diharuskan melakukan puasa mutih yang hanya boleh berbuka dan sahur dengan meminum air putih dan makan nasi putih. Yang tersulit adalah puasa "undur-undur", sebuah ritual puasa dimana dalam hitungan mundur selama satu pekan saya hanya boleh makan nasi putih dan air putih ketika adzan magrib di kumandangkan. Di sebut "ngundur-undur" karena hitungan nasi yang dimakan dihitung menyusut kebelakang selama satu pekan. Di hari pertama puasa saya di perkenankan memakan tujuh kepalan tangan dan air putuh, besoknya lagi hanya di perboleh 6 kepal nasi, hari ketiga puasa menyusut menjadi 5,4,3,2,1 dan akhirnya hanya segelas air putih yang boleh saya minum. Itupun hanya dikala buka puasa karena puasa model ini tidak di perkenankan menyantap sahur.
Adapula ritual puasa "ngebleng". Taraf kesulitan puasa ini masih jauh dibawah puasa "ngundur-undur" karena hanya tidak diperkenankan makan sahur tetapi ketika berbuka kita bisa menyantap makanan apa saja. Asal jelas kehalalannya. Setelah berbuka waktu magrib tiba, kita diwajibkan berniat puasa lagi hingga waktu magrib hari esok datang lagi. Yang tak kalah repotnya adalah ritual "mati geni". Ritual ini dilakukan selama 24 jam mulai terbit fajar hingga terbit fajar lagi dihari kedua. Selama ritual kita tidak boleh makan dan tidur walaupun hanya sekejap mata. Kita hanya diwajibkan membatalkan puasa ketika magrib tiba dengan hanya meminum segelas air putih dan selanjutnya berpuasa lagi.
Pernah juga saya di perintahkan Kyai untuk berziarah ke Maqbaroh (kuburan) para ulama Buntet setiap tengah malam dan tidak boleh di temani satu orang pun. Tentu ke kuburan bukan untuk uji nyali atau meminta pada orang yang sudah meninggal, tapi untuk menambah taraf keimanan saya. Pesan Kyai, "kamu berziarah malam hari ke kuburan yang sunyi dan hanya sendirian bukan untuk apa-apa. Tetapi agar kamu dapat mengimani satu hal. Yaitu bahwasanya tidak ada satu makhluk pun yang dapat melukai, menciderai dan membinasakan diri kita kecuali Allah. Begitu juga sebaliknya agar kamu bertambah iman bahwa tidak ada satu makhluk pun yang mampu member manfaat pada diri kita tanpa izin Allah SWT". Jika bukan karena spirit sebagaimana yang disampaikan Kyai tentu kita akan ketakutan ketika hal-hal gaib terlintas di depan kita. Dengan mata telanjang dan keadaan sadar pulu. Kalau saya ingat-ingat seram juga yah. Pesan Kyai tersebut sampai sekarang masih selalu terekam jelas dalam ingatan saya. Yah..semua itu dulu ketika saya masih di pesantren, sekarang setelah tinggal di Jakarta, jangankan puasa mutih untuk diet mengurangi makan pun terasa susah.
Dari tahun 1997 sampai tahun 2004 penulis nyantri di Pondok Buntet Pesantren, begitu banyak merasakan kehangatan dan kemilau ilmu yang senantiasa bersinar. Sinar yang bukan hanya mampu menerangi kegelapan hati tapi bahkan mampu merubah kegelapan sosial. Salah satu cahaya ilmu tersebut terlihat dari seorang Ulama Besar, Rais Syuriah PBNU, Ketua Ittihadul Muballighin, Professor di Bidang Tafsir, Mahaguru Nan Digdaya bagi BANSER NU. Beliau adalah KH.Muhammad Anisul Fu'ad Hasyim. Seorang orator ulung, singa podium yang memulai dakwahnya dari panggung ke panggung mulai usia yang sangat belia yakni 18 tahun hingga akhir hayatnya di usia 63 tahun. Sebuah dedikasi besar, life time dedication. Mutiara Akhir Zaman dengan daya ingat diatas rata-rata dan kecintaan belajarnya yang "ottodidak internasional". Ulama yang juga santri kembara ini sejak remaja sudah terlihat daya linuwihnya, orang pesantren bilang ilmu ladunni. Beliau dilahirkan hari senin wafat juga hari senin dalam usia 63 tahun, sungguh metamorfosa kehidupan Rasulullah SAW di dunia.
Allamatus Syeikh Fuad Hasyim menghabiskan ilmunya untuk menebarkan dahwah islamiyah dan ilmu agama bukan hanya bagi masyarakat sekitar tapi juga skala nasional bahkan internasional. Di tingkat regional beliau sangat dekat dan senantiasa menjalin komunikasi dengan ulama-ulama di Malaysia, Thailand, Philipina, Kamboja, India terlebih ulama di Timur Tengah sana. Hal ini di pernah ungkapkan kepada saya langsung, bahkan beliau bukan hanya hafal nama dan alamat ulama tersebut di negara masing-masing, tapi berapa kilometer jarak dari air port?, menggunakan kendaraan apa untuk dapat sampai ke tujuan?, hingga tradisi tahunan yang di laksanakan oleh ulama tersebut beliau hafal diluar kepala. Apalagi jika berbicara tentang sejarah Nabi dan para sahabat beliau adalah gudang ilmunya. Daya ingat yang tiada bandingannya tersebut merupakan salah satu karomahnya. Jangan salah Kyai Fuad Hasyim juga mampu berkomunikasi aktif dengan puluhan bahasa manusia di dunia ini. Berhadapan dengan beliau bagaikan melihat matahari yang sangat besar, sungguh terang benderang, terkadang berubah menjadi laut yang memiliki palung sangat dalam yang tidak mungkin diselami oleh manusia manapun.
Di tengah keadaan beliau yang sedang sakit dan di bantu satu tongkat penyangga kaki beliau masih terus berdahwah sampai ke pelosok negeri bahkan ke daerah pegunungan seperti kampung saya. Mang Royan supir pribadi beliau sering bercerita pada saya bahwa sang Kyai seringkali tidur di masjid untuk menunggu jadwal pengajian di pagi hari di kota yang sama atau didaerah yang berdekatan dengan pengajian sebelumnya. Bahkan terkadang melewati daerah yang jauh dari perkampungan sehingga ketika sang Kyai Besar tersebut hendak buang air harus turun ke kali dibantu Mang Royan yang menyiapkan air untuk bersucinya dengan ember yang selalu ada di mobil. Sungguh pengorbanan dan perjuangan yang tidak ternilai oleh Ulama Besar sekaliber KH.Fuad Hasyim. Ini semua tentu hanya demi li i'lai kalimatillah (menunggikan asma Allah).
Tapi inilah mungkin tugas yang diamanatkan Tuhan kepada sang Kyai pencipta Syair Nahdlatul Ulama tersebut. Kamar tidur beliau hanya di hiasi oleh lampu baca dan tumpukan kitab yang entah berapa ratus judul jumlahnya. Walaupun beliau senantiasa menggunakan Mobil Mercy tetapi jika melihat ke kamar beliau sangat memprihatinkan, hanya sajadahnya saja yang senantiasa bersih, sementara beliau tidur diatas tempat tidur yang sangat tidak layak. Inilah filosofi hidup Kyai Fuad bahwa kesederhanaan di ruang privat tersebutlah yang akan senantiasa mengingatkan beliau pada Tuhannya, Allah azza wa jalla. Dalam setiap kesempatan Habib Lulthfy Bin Yahya senantiasa menyampaikan bahwa KH.Fu'ad Hasyim merupakan kawan seperjuangan beliau, senafas, seirama.
Kini , alhamdulillah putra-putri beliau dapat meneruskan perjuangan beliau, KH. Luthfy El-Hakim, MA, KH. Abbas Billy Yachsy,MA dan KH. Faris al-Haq sekarang juga telah menjadi mubalig kondang yang senantiasa padat jadwal ceramahnya. KH. Luthfy el-Hakim juga meneruskan perjuangan ayahandanya dalam mendidik santri dengan menjadi pengasuh di Asrama L Pesantren Nadwatul Ummah. Sementara KH. Abbas Billy Yachsy,MA merupakan Kyai muda yang sangat cerdas dan tekun. Sekarang Kang Babas panggilan akrabnya beliau sedang menyelesaikan tahap akhir penulisan Disertasi Doktoralnya di UIN Jakarta.
Mutiara lain yang senantiasa bersinar di Buntet adalah KH.Abdullah Abbas, ulama tiga zaman ini merupakan "jimat" bagi masyarakat Buntet dan Paku Bumi bagi Masyarakat Jawa Barat. Beliau adalah "Jimat" karena kemurahan hati dan keterjagaan beliau dari perilaku yang kurang baik. Ada juga istilah yang senantiasa di sampaikan KH. Kholil Bisri ataupun adik beliau KH. Mustofa Bisri pada awal tahun 2000-an. Bahwa paku bumi tanah Jawa adalah Triple A; Abdullah Faqih di Jawa Timur, Abdullah Salam di Jawa Tengah dan Abdullah Abbas di Jawa Barat. Berbagai penghargaan dari berbagai kalangan baik dari masyarakat hingga negara telah beliau terima. Pengabdian sepanjang masanya juga telah memposisikannya dalam berbagai macam jabatan puncak pada organisasi sosial keagamaan seperti di PWNU, PBNU hingga Idarah ‘Aliyah Jam'iyah Ahlu Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Namun kesederhanaan Mbah Dullah demikian panggilan hormat masyarakat sekitar tidak berubah. Sosok ulama yang sangat tawadlu dan sederhana. Keikhlasan merupakan filosofi hidup yang selalu beliau pegang teguh. Diam, sabar dan ikhtiar merupakan garis juang Mbah Dullah. Sebagai sesepuh pesantren dan sesepuh masyarakat Jawa Barat, Mbah Dullah tidak pernah sepi dari tamu di kediamannya. Mulai dari para santri, murid tarekat, hingga para umaro silih berganti mendatangi beliau. Tokoh sentral dalam suksesi kepemimpinan KH.Abdurahman Wahid ke Istana Negara ini, pada pemilu 2004 juga dijadikan rujukan oleh hampir semua kandidat Capres dan Cawapres Republik Indonesia.
Tentu hal ini ada yang melatarbelakanginya, sehingga Mbah Dullah begitu dimuliakan masyarakat. Mantan laskar Hisbullah ini selain merupakan pembesar tarekat Syathoriyah dan sesepuh pesantren Jawa Barat, beliau juga seorang mantan pejuang Negara yang banyak makan asam garam perpolitikan nasional. Mulai zaman revolusi fisik, peristiwa pemberontakan DI TII hingga peristiwa pemberontakan PKI di tahun 1965 beliau selalu menjadi pelaku sejarah. Banyak sekali sejarah kelam bangsa yang terekam apik dalam ingatan beliau. Ketika beliau bercerita sejarah republik ini, walau diusia yang sudah udzur, masih sangat runut dan detail. Pada momentum tertentu pernyataan dan sikap Mbah Dullah sangat di tunggu-tunggu oleh masyarakat Jawa Barat. Hingga akhir hayat kediaman Mbah Dullah tidak henti-hentinya menjadi tempat Halaqah Ulama menyikapi persoalan bangsa, baik mulai level Jawa Barat maupun level nasional. Mbah Dullah telah purna bakti dalam mendedikasikan hidupnya untuk Buntet, NU dan Bangsa.
Ulama sepuh lainnya di Buntet Pesantren adalah KH. Abdul Hamid Anas dan KH.Abdullah Syifa Akyas. Kyai Hamid merupakan putra KH.Anas Abdul Jamil. Seorang Kyai tasawuf yang juga sangat sedikit berbicara. Sehingga tiap ucapan yang keluar dari Kyai Hamid senantiasa bagaikan mutiara. Beliau merupakan tempat bertanya bagi masyarakat Buntet sendiri. Beliaulah pemangku kehidupan beragama di Buntet. Pada masa hayatnya KH.Abdullah Abbas, KH.Fuad Hasyim, dan KH. Abdul Hamid Anas merupakan Tri Tunggal yang sangat ideal mengelola dan mengarahkan Buntet Pesantren. Walaupun tidak pernah terekspos Kyai Hamid adalah salah seorang pejuang 65. Inisiator pergolakan santri Jawa Tengah menumpah pemberontak PKI.
Sebulan sebelum kejadian Gerakan 30 September PKI, tepatnya tanggal 17 Agustus 1965 pemerintah Kabupaten Demak mengadakan pagelaran kesenian rakyat dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat termasuk Pesantren. Pada waktu itu KH.Abdul Hamid Anas masih menjadi lurah pondok di Pesantren Mranggen Demak Jawa Tengah di bawah asuhan Mbah Muslih. Untuk berpartisipasi dalam pagelaran tersebut, Mbah Muslih merintahkan Kyai Hamid muda untuk mengadakan pertunjukan debus. Kyai Hamid muda pun menyanggupi, padahal sebelumnya beliau telah mempersiapkan pertunjukan drama teateretikal yang dilatih oleh kader-kader Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Islam) NU Jawa Tengah. Mulailah sang Lurah Pondok tersebut mengumpulkan kawan-kawannya dari Cirebon untuk dilatih debus. Pertunjukan pun di mulai, adegan demi adegan pun di pertontonkan. Kyai Hamid memimpin perhelatan dengan menampilkan aksi kebal bacok, menggunakan kalung petasan yang sebelumnya telah di nyalakan sumbunya, minum air tiga ember, hingga menghilang dari kerumunan masa. Jawara-jawara kecil ini pun mulai mendapat tepuk tangan meriah dari semua pengunjung yang menyaksikan.
Pada saat bersamaan ternyata antek-antek PKI sedang mempersiapkan Kudeta dengan menculik para Jenderal dan Tokoh Kunci Masyarakat. Tanggal 30 September, pemberontakan PKI pun terjadi di susul benturan sosial (social clash) dimana-mana. Negara dinyatakan dalam keadaan darurat dan tragedi kemanusiaan tersebut telah merengut banyak korban. Tidak hanya kalangan militer yang di incar tetapi juga para tokoh NU. Hingga akhirnya Kyai Hamid muda mendapat surat dari Cirebon yang isinya menyatakan bahwa di berbagai daerah telah serempak menyerukan penumpasan PKI. Peristiwa kelam anak bangsa yang hingga saat ini belum terjawab siapa sebenarnya yang menjadi dalang semuanya.
Kyai Hamid muda segera bertindak dengan meminta arahan dari ketua PWNU Jawa Tengah saat itu KH.Abdul Hadi yang juga dari Mranggen. Selanjutnya kontak konsolidasi pesantren Jawa Tengah yang meliputi Mranggen Demak, Rembang, Kaliwungu Kendal dan Mangkang di komandoi oleh Kyai hamid muda. Operasi penumpasan pun sukses walau akhirnya ada dua orang santri dari Kaliwungu Kendal yang hilang tanpa jelas rimbanya. Para tokoh PKI di tangkap oleh para santri bersama Banser dan Ansor NU selanjutnya diserahkan ke kantor Koramil atau Kantor Polisi setempat. Peristiwa ini pulalah yang akhirnya membuat tersohor tentang kesaktian Kyai Hamid dan kawan-kawannya dari Cirebon yang dikenal dengan "Santri-santri Jawara dari Cirebon". Sejak saat itu semua santri Cirebon jadi santri kelas VIP di Mranggen. Di jalan di pasar, ataupun di pesantren mereka sangat di segani. Bahkan petugas pos pun rela mengantarkan secara ekspres kiriman surat ataupun wesel dari Cirebon langsung ke bilik-bilik santri. Mungkin karena takut kena jurus silat santri-santri Cirebon!
Berbeda dengan Kyai Hamid, Kyai Syifa (panggilan singkat KH. Abdullah Syifa Akyas) adalah seorang hamilul qur'an (orang yang senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai way of life-nya). Selain beliau adalah seorang Hafidz Qur'an beliau senantiasa mewiridkan al-Qur'an. Bukan hanya bagi masyarakat Buntet tapi beliau juga menjadi rujukan masyarakat sekitar. Di setiap hari Kamis di kediaman Kyai Syifa senantiasa diadakan pengajian rutin untuk masyarakat umum. Pengajian rutin untuk masyarakat sekitar terbut sudah dijalankan oleh ayahandanya, KH. Akyas Abdul Jamil. Saat ini Kyai Syifa juga menjadi salah satu Khalifah Tarekat Tijaniyah yang masyhur. Semasa hayatnya Kyai Buntet lainnya yang memangku gelar Khalifah Tarekat Tijaniyah adalah KH. Junaidi Anas kakak kandung KH. Abdul Hamid Anas yang juga sesepuh pesantren Sidamulya Cirebon dan juga KH. Fahim Chawi.
Kang Aying panggilan akrab KH. Fahim Chawi semasa hayatnya juga menjabat sebagai Katib Syuriah PWNU Jawa Barat dimana KH.Abdullah Abbas sebagai Rois Syuriahnya. Biasanya setiap solat Jum'at di masjid Buntet senantiasa digelar wirid berjamaah tarekat Tijaniyah oleh para pengikut tarekat yang di pimpin Kyai Syifa. Di kediaman beliau juga sering di gelar pembacaan Manaqib Syeikh Ahmad At-Tijani bersama para murid tarekatnya. Saya sendiri pernah mengaji Kitab Tafsir Surat Yasin kepada Kyai Syifa. Dalam setiap kesempatan pengajian Kyai Syifa senantiasa menyampaikan isi kitab Kasykul (penulis sendiri tidak pernah melihat kitab tersebut) yang isinya mengenai anekdot sufi. Memang, hampir semua ulama Buntet mempunyai selera humor tinggi baik yang tua maupun yang muda.
Begitu hangat dan indahnya hidup bersama para ulama, dengan kehidupan yang begitu bersahaja. Buntet memang surga bagi para pencari ilmu. Setiap malam para santri senantiasa bergulat dengan pelajaran dirasah diniyyah (pendidikan agama) hinggu pukul 23.00 malam, setelah itu mulai asyik bercengkerama sambil menikmati segelas kopi ataupun minuman khas Buntet, teh upet panas di seduh bersamaan dengan gula batu yang manis. Orang Buntet menyebutnya Teh Tubruk. Biasanya para santri karena diminum rame-rame dan peralatan minum yang tidak lengkap, mereka menggunakan gayung yang biasa untuk mandi sebagai gelas dan jika tidak ada sendok untuk mengaduk gula batu mereka sering menggunakan ujung sikat gigi sebagai penggantinya. Ya..Tidak ada rotan akarpun jadi, tidak ada sendok sikat gigi pun jadi. Yang penting puas sambil ketawa-ketiwi atau sambil main tebak tebakan kalo tidak saling pijit badan bergantian. Kadang juga walau jam di dinding sudah menunjukkan jam 01.00 dini hari tapi masih terdengar suara air bergemuruh di kamar mandi, itu biasanya santri sedang mencuci baju mereka.
Memang kehidupan pesantren mempunyai pola hubungan, jadwal kegiatan, karakteristik dan siklus hidup tersendiri. Maka pantas jika kehidupan pesantren disebut Sub-Kultur Sosial tersendiri seperti sering di ungkapkan Gus Dur. Namun terus terang saya sering keki sendiri kalo ingat masa nyantri dulu. Ada beberapa sifat buruk yang susah sekali di tinggalkan para santri. Yaitu kebiasaan tidur hingga lupa waktu dan pola hidup kotor karena malas bersih-bersih. Padahal di depan pintu masuk pondok terpampang jelas slogan "Annadhofatu Minal Iman ;kebersihan sebagian dari iman". Siapa yang salah kalo sudah begini yah?!, saya jadi ingat pesan KH.Nahduddin Royandi Abbas, sesepuh baru kami di Pondok Buntet Pesantren menggantikan kakak beliau KH.Abdullah Abbas yang baru saja berpulang kerahmatullah. Kata Mbah Dien (sapaan hormat KH.Nahduddin) "di pesantren itu al-qur'an dibaca tiap hari, hadits ting blegedek (hadits banyak sekali di nukil), kyainya alim-alim, tapi suruh hidup bersih saja tidak bisa". Itulah sindiran khas gaya Mbah Dien.
Mbah Dien merupakan sesepuh kami yang baru dan mungkin merupakan sesepuh paling eksentrik. Dalam setiap kesempatan beliau tidak pernah mengenakan baju kebesaran khas para Kyai. Tetapi beliau selalu konsisten memakai baju kemeja lengan pendek, peci hitam dan sarungan saja. Beberapa Kyai Buntet sampai membelikan baju koko (busana muslim) ataupun batik berharap Mbah Dien merubah penampilannya, tetapi nampaknya usaha para Kyai Buntet tersebut belum berhasil. Karena Mbah Dien tetap konsisten dengan costumnya. Maklum saja walau di usianya sudah kepala tujuh tapi Mbah Dien ini bukan sembarangan Kyai. Beliau merupakan santri kelana dan "Ulama Trans-Nasional" yang sejak muda hidupnya dihabiskan diluar negeri. Awalnya beliau menetap di Saudi Arabia sebagai staf kedutaan di sana. Selanjutnya Mbah Dien menetap di London Inggris bersama keluarganya dan saudaranya yang bernama KH. Ghozi Mujahid adik kandung KH.Imamuddin Mujahid perintis KBIH Buntet Pesantren.
Sejak awal berdirinya hingga sekarang organisasi NU Cabang Khusus London telah menetapkan Mbah Dien sebagai Musytasyarnya. Beliau merupakan figur yang sangat demokratis, lurus dan paling sering melancarkan auto kritik. Saya kira hal terakhir ini yang paling penting untuk di alamatkan ke pesantren. Pola hubungan adi luhung (ningrat) membuat pesantren sering dianggap feodal sehingga kritik merupakan hal yang kadang tabu. Jarak sosial antara Kyai dengan masyarakat biasa kadang terlalu menganga. Tapi hal itu tentu tergantung bagaimana peranan tokoh sentral di pesantren tersebut. Karena paternalisme di pesantren sangat kental, semua digerakkan oleh kharisma tokoh.
Mbah Dien misalnya senantiasa berpesan kepada segenap pengasuh pondk di Buntet bahwa modal membina umat hanyalah dua hal jujur dan ikhlas. Selanjutnya beliau menambahkan jika kita sendiri tidak bisa melakukan dua hal tersebut, maka jangan salahkan kalangan luar menganggap pesantren secara miring. Pada suatu kesempatan Mbah Dien memberikan pengarahan kepada pengurus Forum Silaturahmi Pondok Buntet Pesantren di Jakarta. Beliau menekankan dalam membangun sebuah organisasi yang kokoh di perlukan semangat membaja dan pantang menyerah. Tidak harus dilakukan oleh organisasi besar dan massal, dalam setiap kebijakan organisasi yang terpenting adalah memulainya bukan hanya mendiskusikannya, karena tanpa di mulai tidak mungkin semua program akan teralisasi.
Sekali lagi, saya begitu merasa bangga dengan almamater saya. Rasanya semua kekeringan ilmu tersirami dengan deras di Buntet Pesantren. Walaupun kata senior saya di Buntet, saya tidak mengalami masa keemasan Buntet dimana para ulama masih lengkap. Tentu, saya hidup di masa sekarang, bukan di jaman dahulu yang lampau. Tapi saya terkadang membayangkan bagaimana rasanya jika saya mengalami masanya KH. Mustahdi Abbas dimana para santri sering melihat kerumunan jin yang juga bersama-sama para santri mengaji kepada sang Kyai. Tasbih dan kitab kadang terlihat berjalan sendiri. Terlintas juga KH. Chawi yang senantiasa menangis ketika mengucap dan mendengar asma Allah. KH. Zen yang mempunyai beberapa putra dan cucu yang semuanya alim. Ada yang menjadi anggota DPR RI yakni KH.Nu'man Zen bahkan ada yang menjadi Qori Internasional KH. Fuad Zen.. KH. Imam yang ahli dalam bidang falak (astronomi) Buntet Pesantren. Pencipta perhitungan waktu solat seumur hidup ini bahkan mampu menghitung kapan daun akan jatuh dari pohon, atau bunga kapan akan mekar dan layu. Ada juga KH. Arsyad yang mempunyai banyak santri dan alim-alim, KH. Hasyim seorang ulama pejuang yang sangat jujur dan senantiasa memakmurkan masjid dengan al-Qur'an.
KH. Mustamid Abbas salah seorang sesepuh Buntet Pesantren yang pernah menjabat sebagai anggota MPR RI utusan Nahdlatul Ulama'. Beliau seorang tokoh yang mempunyai hubungan luas dengan para petinggi negara. Kyai Mustamid pulalah yang menjadi salah satu pelopor pesantren sehingga menerima Pancasila sebagai azas ideologis bangsa. Saya pernah mendapat ceritera dari salah seorang staf pimpinan DPR RI yang hingga saat ini masih bertugas. Namanya Saefuddin staf khusus Bapak Agung Laksono Ketua DPR RI. Beliau asli Jawa Timur, setiap kali berangkat ke Jakarta dari kampung halamannya beliau selalu mampir ke Buntet. Walaupun belah pernah mondok, beliau sudah merasa sebagai santri Buntet. Katanya dahulu Kyai Mustamid ketika bersidang selalu menggunakan sarung dan peci, Kyai Mustamid menjadi seorang yang sangat di segani di senayan karena kharisma dan wibawanya yang tinggi. Bahkan banyak kolega beliau yang mengangkatnya sebagai guru dan orang tuanya. Hingga ada kolega beliau di MPR RI waktu itu yang berwasiat agar dapat di kuburkan di Buntet Pesantren.
Saya juga sering mendapat cerita dari para senior saya di pesantren tentang kealiman tiga bersaudara; KH. Izzudin, KH. Nasirudin dan KH. Anwaruddin. Ketiganya merupakan putra KH. Ahmad Zahid seorang ulama besar Buntet Pesantren yang sangat zuhud dan istiqomah. Beliau adalah legenda hidup pada zamannya. Dulu katanya pengajian begitu ramai, kitab-kitab besar berjilid-jilid selalu dikaji dalam waktu yang cukup singkat. Santri begitu termotivasi untuk belajar dan bersemangat dalam setiap muhadharah (pentas keilmuan) santri. Para putra kyai semuanya juga mengikuti pengajian di tempat KH. Izzudin dan KH. Nashirudin. Sementara KH. Anwaruddin menjadi pimpinan tertinggi "Angkatan Darat" Buntet Pesantren. Beliau tidak segan-segan memberi sangsi atas semua kesalahan fatal yang dilakukan santri. Di sisi lain beliau merupakan benteng bagi semua orang dan kepentingan yang ingin merusak harmoni kehidupan pesantren.
Lebih-lebih, saya tidak terbayang bagaimana jika saya merasakan masa awal-awal keberadaan Buntet Pesantren dimana KH. Abdul Jamil bersama putra putrid beliau masih berkumpul. Mulai dari KH. Abbas putera tertua yang merupakan tokoh sentral dan paling legendaris dari Buntet. Sejuta ceritera dan testimonial para santri atau pengikut beliau telah banyak di tulis dan di bukukan. Kajian kesejarahan dan perjuangan jaman revolusi fisik juga tidak kurang dalam mengetengahkan ketokohan beliau. KH. Akyas adik kandung Kyai Abbas adalah seorang Allamah, Hafidzul Hadits serta guru para Kyai di Buntet. KH. Anas bin Abdul Jamil juga merupakan tokoh yang sangat fenomenal. Pembawa tarekat Tijaniyah ke tanah Jawa ini sudah terkenal kassyaf (mengetahui hal yang gaib) sejak usia belia.
Berbeda dengan ketiga saudaranya KH. Ilyas merupakan ulama alim yang sangat zuhud dan wara'. Beliau senantiasa membersihkan pelataran masjid serta berjalan kaki walaupun untuk menuju tempat yang cukup jauh. Atau KH. Murtadlo, karib KH. Munawir Krapyak Yogyakarta ini merupakan peletak dasar ilmu al-Qur'an di Buntet Ah, itu semua adalah masa lalu mungkin ilmu para ulama bisa saja terkubur bersama kepergiannya ke alam barzah. Para pendahulu kini telah mendapatkan tempat yang layak di hadirat Allah SWT.Namun fondasi yang begitu kokoh diletakkan para founding father Buntet Pesantren hingga kini masih berdiri tegak.
Saya sangat bangga dengan Buntet Pesantren, karena proses regenerasi kepemimpinan dan keilmuannya sangat baik. Seiring dengan meninggalkan para pendahulu kini muncul kader-kader ulama muda Buntet Pesantren yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah KH. Adib Rofi'uddin Izza. Beliau yang sekarang mengemban amanah sebagai Ketua YLPI Pondok Buntet Pesantren, juga merupakan Rois Syuriah PBNU termuda dalam usianya yang ke 40 tahun. Ini menunjukkan kapasitas keilmuan dan kualitas pribadi yang menonjol dari diri Kyai Adib. Di usianya yang belum begitu tua, beliau sangat vocal dalam setiap rapat di PBNU. Baik rapat yang membahas masalaha internal keorganisasian, masalah fiqhiyah hingga masalah kebangsaan seperti halnya hubungan NU dengan Partai Politik. Kyai Adib merupakan figur yang penuh idealisme, berani menyampaikan kebenaran dan berani menyatakan sesuatu yang berbeda dengan pandangan orang lain jika menurutnya benar.
Beliau juga merupakan Kyai yang sangat alim dalam bidang fiqih. Hal ini jelas terlihat ketika memberikan penjelasan sebuah kitab fiqih kepada santri. Saya sendiri sempat mengaji kepada beliau beberapa kitab seperti Fathul Wahab (dibidang fiqih), Tafsir Jalalain (dibidang tafsir al-qur'an) dan Al-Hikam (dibidang akhlak tasawuf). Semasa di pesantren hampir tiap malam juga saya mujalasah dengan beliau bersama warga sekitar sambil menikmati teh tawar panas yang dihidangkan dengan gorengan. Satu hal yang saya salut adalah walaupun sedang asyik-asyiknya ngobrol di depan teras rumah beliau, jika waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari beliau pasti masuk kamar beliau untuk menjalankan Qiyamul Lail. Murid kesayangan KH.Maimun Zubair ini sejak usia remaja memang sudah terlihat tingkat keilmuan yang matang dan spiritualitas yang tinggi. Tidak heran makannya jika sekarang beliau menjadi tokoh yang sangat terpandang.
Ada juga seorang Kyai di Buntet walaupun usianya masih paruh baya tapi pembawaannya sangat sepuh. Postur tubuh yang tinggi tegap dan raut wajah yang sangat tampan. Gaya bicara, gerakan tubuh dan senyumannya pasti membuat setiap mata wanita memandang akan terpesona. Beliau adalah KH. Abdul Basith Zen putra KH. Fuad Zen yang terkenal sebagai qori international dari Buntet Pesantren. Konon katanya nama Abdul Basith karena tafa'ulan (duplikasi dengan maksud penghormatan) kepada karib ayahandanya yang seorang qori masyhur dari Timur Tengah bernama Abdul Basith. Beliau merupakan alumni Pesantren Tegal Rejo Jawa Tengah dan kini mengasuh Asrama Santri Al-Falah. Kealiman beliau di bidang ilmu fiqih memposisikan beliau saat ini sebagai Ketua Lajnah Bahtsul Masa'il NU Kabupaten Cirebon. Sebuah lembaga pengambilan keputusan hukum NU yang menaungi ratusan pesantren di Kabupaten Cirebon. Jika kita menyempatkan sekali-kali solat Iedul Fitri atau Iedul Adha di Masjid Jami Buntet. Maka kita akan mendengarkan duet dua ulama muda Buntet. KH. Adib Rofi'uddin selaku khotib karena memang beliau jago pidato sementara KH.Abdul Basith sebagai Imamnya, alunan nada dalam membacakan ayat suci al-Qur'an sangat merdu, syahdu dan begitu menyentuh. Sebuah duet yang sangat serasi, kompak penuh harmoni. Saya selalu berdoa semoga kedua ulama muda Buntet ini senantiasa di berikan kesehatan dan panjang umur.
Ada lagi, satu Kyai muda Buntet yang hampir tiap bulan saya pinjam kitabnya. Beliau memang seorang "kutu kitab". Kyai muda ini punya penyakit aneh, yaitu tidak bisa tidur jika malam hari. Walaupun telah larut malam hingga dini hari mata beliau tidak pernah mau berkompromi untuk tidur. Namun beliau justeru menikmati penyakitnya tersebut, karena dengan demikian setiap malam beliau senantiasa bercengkerama dengan kitab-kitabnya yang berjumlah ratusan judul dan berjilid-jilid. Hampir seluruh ruang perpustakaan pribadinya di penuhi dengan kitab-kitab agama tersebut. Setiap saya sowan ke beliau selalu saja ada di dekat mejanya satu gelas teh, gula batu, sebuah teko tempat menuang teh, dan beberapa bungkus rokok kretek. Terkadang beliau juga punya menu khusus, yaitu rokok "ting we", ngelinting dewe. Perawakannya gemuk, tambun, dan selalu memakai sarung hingga di bawah dada. Kyai muda ini adalah Tubagus Ahmad Rifky Chowas, putra KH. Chowas Nuruddin seorang mantan Ketua Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren yang juga karib KH. Syukron Makmun.
Konon gelar Tubagus yang disandangnya merupakan gelar kehormatan yang di dapatkannya dari Kesultanan Banten. Kang Ntus, panggilan akrabnya, pernah terseleksi sebagai salah satu kandidat Syuriah NU Cirebon yang mendapat pendidikan Ke-Syuriahan dari PBNU di Jakarta. Bagi saya beliau adalah "kitab berjalan". Setiap kali berdiskusi dengan beliau, selalu saja mengalir dari mulut beliau puluhan nukilan kitab yang beliau ingat diluar kepala. Terkadang saya sampai tidak dapat mengingat apa saja kitab yang di nukil dan berapa puluh kitab jumlahnya. Referensialnya sangat kuat dan tajam. Hebatnya lagi beliau juga tidak perla luput meng-up date perkembangan pemikiran Islam modern di tanah air maupun Timur Tengah bahkan pemikiran ke islaman di Barat. Maka jangan heran kalau Kyai muda ini juga hobi mengoleksi buku-buku tulisan intelektual muda NU, seperti Ulil Abshar Abdalla, Masdar Faried Mas'udi, Gunawan Muhammad, Dawam Raharjo hingga pemikiran-pemikiran Gus Dur.
Banyak juga terpampang kitab Muwaffaqat Fi Maqashid al-Syari'ah karya As-Syatibi, Fiqhul Islam Wa Adillatuhu karya Wahbah Zuhaili, karya-karya Sayid Abdurrahman Al-Buthi, An-Naim, Al-Jabiri, Muhammad Arkoun hingga Hassan Hanafi. Beliau senantiasa bertukar kitab dengan kawan-kawannya yang study di Timur Tengah. Tapi yang saya salut beliau tetap konsisten dengan pemikirannya yang khas pesantren. Tidak mau ke kiri-kirian, atau menjadi puritan ke kanan-kananan. Sungguh salut dengan beliau, bukan hanya pandai memetakan dan mengkritisi pemikiran ulama salaf dan intelektual Islam masa kini. Beliau juga telaten mengkoleksi ghara'ibul mas'alah dinniyah (kasus-kasus fiqhiyah yang menyimpang dari mainstream ulama mazhab). Saya yakin suatu saat beliau akan menjadi seorang ulama yang di hebat dan di segani.
Kyai-Kyai muda di atas merupakan produk murni pendidikan salaf pesantren Indonesia. Tapi jangan salah di Buntet Pesantren banyak juga Kyai muda yang merupakan prototype campuran pendidikan salaf di pesantren dan juga lulusan Perguruan Tinggi Islam luar negeri. Sebut saja misalnya KH.Abbas Sobich Mustahdi adalah seorang putra mahkota Buntet Pesantren yang pernah belajar dan menetap lama di Arab Saudi. Putra KH. Mustahdi Abbas ini juga seorang ahli di bidang Qiro'atus Sab'ah. Sebuah disiplin ilmu yang mempelajari metode-metode pembacaan ayat suci al-Qur'an yang di ajarkan Tujuh Imam Besar. Sungguh sangat di sayangkan Allah SWT memanggil beliau dalam usia yang masih paruh baya karena penyakit yang di deritanya.
Di awal tadi saya juga telah menceritakan paling bahwa KH. Aris Ni'matullah putra KH. Izzudin yang lulusan Cairo University. Adik iparnya KH. Wawan Arwani, MA adalah putra KH.Amin Siraj sesepuh pesantren Gedongan Cirebon, ibu beliau Nyai Eni kakak kandung KH. Hasanuddin Kriyani. Beliau merupakan alumni S2 di Chourtum University Sudan dan sekarang sedang menyelesaikan Disertasi S3-nya di Bidang Ilmu Tasawuf di UIN Jakarta. Mantan Ketua Umum PMII Cirebon ini merupakan sosok organisatoris sejati dengan kemampuan diplomasi nomor wahid. Setiap minggu beliau selalu pulang pergi Cirebon - Jakarta karena beliau mempunyai pengajian ekskutif yang di ikuti oleh para pengusaha asal Cirebon di Jakarta. Sebagai Wakil Ketua PCNU Cabang Kabupaten Cirebon, saya dengar beliau juga di gadang-gadang untuk duduk sebagai wakil Bupati Cirebon atas rekomendasi PCNU. Ayah beliau KH. Amin Siroj yang juga paman KH. Said Aqiel Siraj tersebut merupakan tokoh kharismatik pilar ulama di Cirebon bagian timur.
Satu angkatan dengan KH. Aris Ni'matullah, adalah KH. Ade Nasich, Lc. Beliau merupakan alumnus jurusan Ushuluddin Universitas Al-Azhar Syarif Mesir. Ahli di bidang Teologi ini merupakan menantu KH.Abdullah Abbas dan juga merupakan adik kandung KH. Cecep Nidzomuddin. Kang Cecep, sapaan hangat KH. Cecep Nidzomuddin merupakan sosok Kyai muda yang memiliki selera humor tiada duanya. Duta Dakwah Dompet Duafa Republika ini kini selalu berkeliling nusantara untuk menebarkan dakwah islamiyah. Di Buntet Pesantren juga tercatat banyak Kyai Muda yang pernah belajar di Al-Igra University India, beliau adalah KH. Luthfy El-Hakim, MA, KH. Abbas Billy Yachsy, MA, dan KH. Yumni Fathoni Imam, MA. Saya tidak hapal semua dan tidak dapat mengingatnya satu persatu Putra Buntet yang belajar di luar negeri. Yang jelas juga masih banyak Putra Buntet yang hingga saat ini masih berada di luar negeri bahkan juga sudah memiliki dua kewarganegaraan. Ada yang di Inggris, Australi, India, Pakistan ataupun di Timur Tengah sana. Biar kampung kecil, Buntet merupakan "perkampungan internasional".
Inilah fenomena perkampungan internasional bernama Buntet Pesantren yang telah di rintis sejak lama oleh KH. Mustahdi Abbas. Sejak masa-masa awal kemerdekaan beliau telah menjalin kontak diplomasi dengan ulama-ulama Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Sudan, Syiria dan Yaman. Dulu santri Buntet juga banyak sekali yang mendapat beasiswa belajar di Timur Tengah. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Pesantren yang sudah berumur ratusan tahun hingga saat ini masih tetap menunjukkan eksistensinya menjadi khadimul ummah (pelayan umat). Ini tentu juga tidak terlepas dari barokah para pendahulu sebagaimana Mbah Muqoyyim yang sebelum mendirikan pesantren berpuasa dulu selam 12 tahun untuk mendoakan keluarga, santri dan tanah perjuangan Buntet Pesantren.
Di Buntet kini masih berdiri sekitar 40an pondok pesantren, saya tidak hafal namanya satu persatu. Semuanya pondok atau kadang disebut juga asrama memiliki seorang atau beberapa pengasuh yang biasa di pegang oleh seorang Kyai atau Nyai beserta keluarganya. Mempunyai dewan as-satidz (dewan guru), sitem pengajian dirasah dinniyah yang berjenjang. Mulai dari i'dadi (persiapan), sifir (kelas terendah), awaliyah (permulaan), tsanawiyah (pertengahan/lanjutan) dan aliyah (tingkat tinggi). Sayang memang dengan potensi yang ada, sampai sekarang ini setahu saya belum ada sebuah sistem dirasah dinniyah yang di bakukan secara seragam. Sehingga antara satu pondok dengan lainnya cenderung memiliki managemen yang berbeda tergantung managemen yang dipilih sang kyainya. Apalagi kalau saja bisa ada pengajian wajib bersama yang di ikuti oleh seluruh santri Buntet Pesantren. Dimana para Kyai Buntet secara bergiliran sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya. Mungkin jika hal itu dapat di realisasikan maka Buntet dengan sumber daya manusia yang ada akan menjadi pesantren yang mempunyai pendidikan handal dan bermutu.
Waktu saya masih nyantri, akhirnya saya dan sebagian santri punya prinsip jika pendidikan yang terintegrasi belum dapat terealisir maka kamilah yang harus lebih aktif untuk mengikuti pengajian beberapa ulama di Buntet. Seingat saya selain kepada KH. Fakhrudin Mulyono, KH. Hasanuddin Busyrol Karim para ustadz di asrama C Al-Firdaus seperti Kang Omang, Kang Abdurahman, Kang Qohar, Kang Fathuddin dan Kang Ukhi. Saya juga sempat mengaji kepada KH. Adib Rafi'uddin, KH.Ahmad Manshur, KH.Abdul Hamid Anas dan KH. Abdullah Syifa Akyas. Saya juga bersama beberapa alumni dari pesantren Ploso Kediri, Jombang dan alumni Buntet sendiri pernah ngaji khusus kepada KH. Ali Maufur yang juga guru Al-Fiyah Ibnu Malik saya di MANU BPC. Selama bulan puasa hingga bulan Syawal kami mengaji beberapa kitab kepada beliau, termasuk diantaranya Durrotun Nasihin yang berisi mauidlah bekal dakwah serta kitab Fathul Jawwad Fil Ma'fuwwat. Sesuai namanya kitab ini menjelaskan najis-najis yang mendapat ditolelir atau bahkan di anulir dari sisi hukumnya.
Kediaman KH. Ali Maufur berada di seberang sungai yang menjadi yang membatasi wilayah perkampungan Buntet Pesantren. Kata orang sekitar daerah tersebut kalau tidak salah dinamakan Blok Sekrikil. Di cluster Sekrikil tersebut juga terdapat beberapa Pondok Pesantren yang masih dibawah naungan YLPI Buntet Pesantren. Selain pondok Al-Khoir yang di pimpin KH.Ali Maufur terdapat pula pondok Syubaniyah Islamiyah Pimpinan KH. Baedlowi. Ada juga pondok Habil Ilmi pimpinan KH.Habil Ghomam, pondok Ar-Raudlah pimpin KH. Jirjis Umar Yutho, pondok dan Sekolah SLTP Islam peninggalan KH. Aziz, seorang tentara ulama berpangkat kolonel. Di samping kanan jalan utama masuk ke Buntet juga berdiri megah bangunan Akademi Keperawatan Pondok Buntet Pesantren, satu-satunya AKPER di Jawa Barat yang mewajibkan Mahasiswanya mampu menguasai baca tulis al-Qur'an dan Fiqih Dasar.
Semua mahasiswa wajib mengikuti pengajian fiqih terutama fiqhun najasah karena profesi perawat sangat rentan berhubungan dengan hal tersebut. Di sebelah kanannya juga terdapat Gedung MANU Putra BPC yang baru. Harap di ketahui bahwa di Buntet Pesantren mulai dari pendidikan dasar pendidikan formal untuk siswa putra dan siwa putri semuanya di pisahkan. Untuk sekolah formal khusus putra semua dewan gurunya pun semuanya laki-laki. Bisa di bayangkan kalau sudah siang, maka bau keringat siswa putra dikelas mulai menguap. Di tambah lagi bau minyak misik guru-guru kami yang mayoritas juga Kyai. Waduh, sangat menyengat dan membuat pusing kepala. Berbeda dengan sekolah khusus putri yang baik siswi amaupun ustadzahnya semuanya cantik-cantik dan wangi-wangi.
Di samping kiri jalan terlihat bangunan luas bertuliskan Madrasah Aliyah Negeri Buntet Pesantren. Satu-satunya pendidikan lanjutan di Buntet yang berstatus negeri dan menjadi favorit untuk masyarakat sekitar. Sebenarnya Buntet sudah memproyeksikan beberapa Mega Proyek Pendidikan dan Fasilitas Pesantren. Diantaranya adalah peningkatan status Akademi Keperawatan menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, Pembukaan Akademi Kebidanan, Pembangunan Universitas Buntet Pesantren, peningkatan Lembaga Bahasa dan Komputer menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komputer. Disamping itu para pengurus YLPI juga telah memproyeksikan pendirian Rumah Sakit Islam Buntet Pesantren. Semoga semua cita-cita besar ini dapat segera terealisir. Amin.
Di samping bangunan MANU Putra BPC juga terdapat Pesantren Nurul Arwani pimpinan KH.Wawan Arwani bersama irterinya Hajah Nurul. Di seberangnya juga terlihat Pesantren Riyadussolihin pimpinan KH. Djawahir Juha seorang pendidik dan pengarang kitab Nahwu bagi pemula yang laris di kalangan pesantren. Di belakang MANU Putra BPC sendiri terdapat lapangan sepak bola milik Kelurahan Mertapada Kulon. Buntet Pesantren sebenarnya hanyalah sebuah Dusun atau Dukuh yang secara administratif masuk ke Kelurahan Mertapada Kulon Kecamatan Astana Japura. Lapangan sepak bola tersebut juga sering kali di gunakan sebagai Hellipad jika ada pejabat yang berkunjung ke Buntet dengan menggunakan Hellicopter.
Jika bulan Agustus tiba, lapangan tersebut sering di gunakan sebagai arena turnamen sepakbola yang melibatkan seluruh desa di Kecamatan Astana Japura. Para santri dan kyai biasanya tumplek blek menyaksikan pertandingan sepak bola di lapangan tersebut. Kesebelasan Buntet biasanya di perkuat oleh Kang Farid Cs. Kang Farid yang dilapangan sering di panggil "Panji" karena memang ketampanan dan bodynya mirip Primus. Aktor pemain sinetron jagoan anak-anak waktu itu yang menampilkan tokoh jagoan bernama Panji. Beliau adalah putra tertua dari KH. Nasirudin Zahid seorang ulama kharismatik yang pengajiaannya senantiasa di ikuti oleh mayoritas para putra Kyai Buntet. Bukan hanya kang Farid, tapi adik beliau Kang Luthfi dan Kang Zidni juga selalu memperkuat team kesebelasan Buntet. Saya tidak tahu apakah sekarang Kang Farid masih bisa bermain bola atau tidak?. Karena katanya beliau sekarang sedang laris manis mendapat undangan pengajian agama dari berbagai daerah sekitar. Mungkin kalo dulu penampilan Kang Farid mirip Panji mungkin sekarang lebih mirip Uje, bukan ustadz Jeje seksi sibuk di Buntet, tapi ustadz Jefry yang juga selebritis itu.
Inilah tokoh-tokoh muda Buntet dengan segara aktifitasnya. Ada yang ngajar ngaji saja di pesantren, ada yang mengajar di sekolah formal, ada yang menjadi dosen, ada yang menjadi pengurus organisasi sosial, menjadi birokrat, berdagang, kerja sektor informal bahkan mungkin ada juga yang jadi paranormal. Segudang cerita yang tidak akan pernah habis, dari hari ke hari dari generasi ke generasi. Buntet selalu saja mempunyai momentum untuk menentukan sikap sesuai garis perjuangannya. Sebuah dinasti pesantren keturunan ningrat dari Keraton Cirebon yang memiliki garis silsilah kepada Sunan Gunung Jati. Sebagai pesantren yang banyak di huni tokoh kaliber nasional, Buntet mau tidak mau juga banyak sekali terlibat dalam pentas perpolitikan nasional. Fatsoen politik yang menjunjung tinggi etika keagamaan, menjaga tradisi luhur kepesantrenan serta nilai-nilai kultural.
Kancah Politik
Saya kira yang paling faham tentang pentas politik pesantren di kancah nasional saat ini adalah KH.Anas Arsyad. Seorang tokoh muda Buntet Pesantren yang mempunyai jaringan luas, visi ke depan, diplomatik serta mempunyai gaya berpidato yang khas. Kepandaian dalam berpidatonya sungguh luar biasa, dengan pilihan kata yang padat penuh arti, beliau sanggup menggugah motivasi ataupun menyentuh perasaan terdalam pendengarnya. Sebagai mantan dosen civic education beliau juga sangat memahami tentang ilmu politik dan tata Negara. Beliaulah konsolidator pesantren secup nasional dan sangat dicintai para ulama. Setiap kali ada pertemuan Kyai Khos di Indonesia, selalu saja KH.Anas Arsyad konsolidatornya.
Beliau laksana Kyai As'ad Syamsul Arifin muda yang sering menjadi penyambung lidah para Kyai Khos. Bukan hanya dicintai oleh para Kyai Khos, para intelektual muda pun seperti halnya Ahmad Denni Daruri (Executive Director Banking Crisis Centre) juga sangat dekat dengan beliau. Bahkan mungkin sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri bagi Bung Deni yang tulisannya setiap minggu muncul di kolom Opini Media Indonesia. Kang Anas, begitu koleganya sering menyapa adalah sosok yang mampu membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Tak heran jika kolega beliau begitu banyak mulai dari para pengasuh pesantren, pejabat pusat, pengusaha kelas nasional, aktivis pergerakan bahkan hingga beberapa selebitris. Sekarang ini Kang Anas juga mengadakan pengajian rutin di salah satu kediamaannya di Jakarta untuk segenap keluarga besar, santri dan alumni Buntet Pesantren di Jakarta. Kang Anas adalah kader pemimpin masa depan dari pesantren yang patut di banggakan.
Begitu banyak kader Buntet Pesantren yang berkiprah di luar, tapi banyak juga para Kyai yang istiqomah menjadi benteng pendidikan keagamaan di pesantren Buntet. Sebut saja misalnya KH. Jaelani Imam pengasuh pondok Al-Hidayah, KH. Amiruddin pengasuh pondok Hidayatul Mubtadiin, KH. Majduddin Busyrol Karim pengasuh pondok Al-Hikmah I, KH.Salman Al-Farisi pengasuh pondok Al-Hikmah II, KH. Anis Manshur pengasuh pondok Nadwatul Banin, KH. Jachus Santoso pengasuh pondok Al-Anwar, KH. Yusuf Ma'mun pengasuh pondok Al-Makmun, , KH. Turmudzi Nur pengasuh pondok An-Nur, KH. Immaduddin pengasuh pondok Darul Amanah, KH. Rofi'i Kholil pengasuh pondok Nurussobah hingga KH. Ahmad Tijani Anas pengasuh pesantren Darul Hijroh I. Ada juga pondok yang sepeninggal Kyai pendirinya akhirnya di teruskan oleh isteri, putera atau menantu para Kyai tersebut. Saya tentu tidak dapat menyebutnya satu persatu karena jumlahnya mencapai puluhun.
Termasuk dalam naungun YLPI Buntet Pesantren adalah pesantren-pesantren yang berada pada cluster sebrang sungai sisi kiri yang di sebut Blok Buntet Sebrang. Buntet Pesantren secara geografis memang di kelilingi oleh dua sungai besar sehingga daerah tersebut di namakan Buntet yang artinya buntu. Konon masyarakat sekitar mempunyai kepercayaan bahwa santri yang berasal dari Jawa Tengah di larang keras mandi di sungai tersebut. Memang sudah banyak kejadian santri Jawa Tengah yang nekat mandi di sungai tersebut di temukan dalam keadaan pingsan atau bahkan tewas secara tidak wajar. Padahal arus sungainya relatif kecil, sungainya pun juga dangkal. Ini merupakan salah satu cerita misteri yang ada, masih banyak lagi cerita mistik yang lain yang tidak bisa diceriterakan disini.
Di Blok Buntet Sebrang tersebut juga terdapat beberapa pondok seperti pondok Al-Hikmah III yang di asuh KH. Ahmad Mursyidin dan pondok Al-Muafi yang diasuh KH.Abdul Matin. Saya jadi ingat dulu saya pernah belajar tilawatul Qur'an kepada KH.Abdul Matin di pondok Al-Muafi tersebut. Namun baru dua kali pertemuan saya sudah menyerah angkat tangan karena saya sadar diri. Suara saya yang bariton, nafas pendek dan karakter suara yang terlalu banyak fibrasi tidak cocok untuk menjadi seorang Qori. Walaupun program gurah tenggorakan dan berpantang makan gorengan, tidak berubah juga suara saya menjadi baik. Mungkin saya lebih tepat memimpin tahlil saja yang bacaannya pendek-pendek dari pada berlatih tilawah yang harus bisa bernafas panjang.
Di Blok Buntet Sebrang ini pulalah saya bersama kawan-kawan santri lain selalu menghabiskan sore hari. Jika tidak ada jadwal mengaji, kami selalu bermain sepak bola disitu. Lapangannya adalah kebun belakang rumah penduduk yang ditelah tumbuh beberapa pohon asem. Tentu tidak ada rumput hijaunya sama sekali, apalagi garis lapangan. Bola akan di anggap out dari lapangan apabila telah melewati pekarangan sebelah yang sudah di buat fondasi karena akan segera di bangun rumah. Atau bola telah melewati jalan desa yang banyak dilalui motor atau kalau tidak berarti bola telah meluncur terbawa aliran sungai. Walaupun di samping kiri kanan terdapat rumah penduduk tapi tendangan jarak jauh yang mengenai rumah tidak berbahaya. Bukan karena apa-apa, tapi karena bola yang kami gunakan adalah bola plastik. Bola tersebut hanya dapat bertahan untuk lima sampai sepuluh kali permainan. Setiap terkena runcing batu atau ketika terjadi benturan tendangan antar pemain bola akan pecah atau sobek. Gawangnya cukup di buat dengan menancapkan dua galah bambu yang biasa digunakan untuk kegiatan ekstrakulikuler pramuka di sekolah.
Karena badan saya gemuk saya selalu mendapat posisi untuk memperkuat lini belakang pertahanan. Mungkin juga kalau jadi penyerang saya kurang gesit berlari. Kami biasanya lebih senang jika hujan turun, karena permainan akan lebih mengasyikkan. Yang paling lucu dari permainan ini adalah kostum kami. Biasanya para santri bermain bola dengan memakai kaos dan sarung. Tentu kami juga memakai celana pendek atau paling tidak celana dalam. Tapi terkadang ada juga yang nekat tidak memakai celana sama sekali. Hanya memakai sarung dan kaos oblong saja. Celakanya, pas terpeleset jatuh di tidak sadar kalau sarungnya robek sampai ke paha. Walhasil. "tongkat polisi" si santri tersebut tak ayal menjadi tontonan lucu oleh pemain lainnya. Tapi mungkin inilah kebahagiaan hidup santri yang tidak dapat di beli dengan harta atau kenikmatan lainnya.
Pikiran saya mulai membayang menerawang kemana-mana mengingat masa-masa indah nyantri di Buntet Pesantren. Saya jadi ingat kawan-kawan "seperjuangan" saya. Salah satunya adalah Mas Sulam santri KH.Ahmad Tijani Anas yang berasal dari Purwokerto. Dulu, setelah nyantri dari Buntet meneruskan ke Pesantren Sarang Rembang dan akhirnya dia kembali lagi ke Buntet. Kang Yusuf dan Kang Ipin keponakan KH. Yusuf Makmun yang saat itu juga mengajar di beberapa pondok. Kang Azizi putra Uwa Abdul Bari yang sering di panggil oleh Kang Farid dengan sebutan "3 X 4". Di panggil demikian karena memang postur tubuhnya sangat pendek seperti past foto yang sering dia cetak. Yah..kebetulan Kang Azizi memang seorang fotografer senior Buntet yang studionya cukup dengan menempel kain biru polos di dalam ruang tamu rumahnya.
Saya juga ingat Busyaeri rekan seperjuangan saya yang pernah punya cita-cita ingin menjadi "Kepalanya Kapolri". Dia sekarang sudah diangkat menjadi PNS di Pengadilan Agama Kota Cirebon. Bulan lalu saya ketemu dia, katanya sekarang tujuan hidupnya tinggal satu "ingin secepatnya menikahi pacarnya anak Indramayu yang katanya secantik dewi persik". Anak-anak Garesado (Gabungan Remaja Sawo Doyong). Nama yang aneh?!. Zaki Mubarok "Cecep" tukang komputer, Tamar, Amar Jhon, Amar Congkrek, Awang, Ang Say, Dawud, Mas Hadi instruktur fitness, Wawan gendut, Mang Bawon pemilik caffe dengan menu special "rumbah so'un".
Ada nama klub sepak bola di Buntet yang bernama PS Tiga Roda. Tentu bukan karena sponsor utamanya semen tiga roda tetapi karena pemainnya adalah tukang-tukang becak. Klub ini selalu menjadi primadona ketika ada turnamen "kambing cup" yang biasa di gelar di Stadiun Utama Buntet, "Stadiun Kebon Ledeng". Lapangannya sangat aneh karena bentuknya mirip wajan dengan tingkat kemiringan 45 derajat. Ada juga yang dinamakan masyarakat T-KAD, kepanjangannya adalah tuan kandang. Kelompok ini merupakan cluster masyarakat Buntet yang berada di sisi rel kereta api yang melintasi depan pesantren. Pimpinannya adalah Man Rochim yang lebih biasa di panggil Man O'im. Seorang senior driver di Buntet yang kini juga berdagang peralatan elektronik dan listrik.
Mas Waros serta Kuswito tenaga administrasi MTs teladan di Buntet. Terlalu banyak kenangan dengan mereka terutama langganan utang saya untuk biaya transport kuliah. Ada juga rekan sesama khodam di pesantren bernama Ahmad Syaefuddin, biasa kami panggil U'u. Anak yang paling jarang pakai sandal ini sekarang sudah hebat. Setelah mondok di Buntet dia bercita-cita ingin kuliah di Cirebon. Akhirnya dengan bekal suara merdunya ketika mengumandangkan adzan dia melamar jadi pengurus masjid di bilangan Perumnas Cirebon. Dari hasil gaji mengurus masjid, memberi private pengajian dan mengajar al-qur'an di masjid. Dia sekarang sudah semester akhir kuliah di STAIN Cirebon. Perjuangan yang sangat mulia dan patut di teladani.
Saya juga teringat putra-putri Kyai yang semuanya baik, ganteng-ganteng dan cuantik-cuantik. Persis seperti bintang-bintang film Bollywood. Mereka inilah yang nantinya kan menjadi pemimpin-peminpin Buntet di masa yang akan datang. Tidak terasa ternyata saya dari tadi masih duduk termenung di beranda masjid setelah melaksanakan solat Subuh berjamaah yang di imami oleh KH. Hasannudin Kriyani.
Seorang santri menghampiri saya dan menyampaikan bahwa saya di tunggu sarapan oleh Kyai saya, KH.Hasannudin Busyrol Karim di kediamannya. Aha!!..menu kesukaan saya telah tersedia di meja tamu Kyai, serabi hangat disandingkan dengan tempe goreng. Lidah saya sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Ditemani segelas teh tawar hangat saya pun mulai menyantap menu istimewa khas "restoran itali" tersebut.
Sambil ngobrol ngalor ngidul saya dan Kyai melahap serabi hingga hampir habis. Tak terasa matahari mulai menghangatkan bumi para santri tersebut, dan di ujung sana sudah mulai terlihat berjejer food court menjajakan makanan sarapan untuk para santri. Paling ujung kanan terlihat Man Asep dengan makanan ketoprak khas Cirebon, Man Ilyas dengan Bajigur dan ketela rebusnya, Man Munir dengan bubur ayamnya. Ada juga nasi ponggol yang di jajakan Bi Pat dang sang suami tercinta, Man Aom dengan dagangan macam-macam di gerobak mulai dari permen, kerupuk, teh botol hingga rokok. Terlihat juga Man Yadi mulai memarkin gerobak es campurnya yang senantiasa laris manis di borong para santri. Tidak perduli siang malam, cuaca panas ataupun hujan sekalipun. Selalu saja dagangan es campurnya habis tak tersisa. Buntet Pesantren memang penuh keberkahan begitu Man Yadi sering menasihati saya.
Entah sudah berapa generasi berganti, entah sudah berapa juta alumni yang pernah nyantri, Waktu serasa telah terhenti, tinggallah cahaya ilmu yang terus menyinari. Buntet Pesantren tetap ada penuh dedikasi. Berapa banyak Ulama, Pemimpin, Intelektual, Pengusaha dan Birokrat yang telah di lahirkan dari bumi perjuangan tersebut. Bakti persada para pahlawan tanpa tanda jasa, telah paripurna menasbihkan asma-Nya. Puspita Warni Ma'hadi Buntet As-Syirboni.






